Menjalani Hidup Sebagai Muslimah Muda yang Bercerai dengan seorang Anak
Assalamu alaikum. Ini hal yang tak pernah kupikir akan kukatakan: Aku seorang saudari perempuan di usia mid-20an, baru saja bercerai, dengan seorang anak kecil untuk dijaga. Semasa tumbuh besar, aku selalu bermimpi memiliki keluarga besar yang bahagia dengan suami yang penuh kasih, seperti rumah tangga Muslim yang kuat di mana aku dibesarkan. Tapi, ternyata, segalanya tidak berjalan sesuai rencana. Aku menikah muda, tanpa pengalaman nyata berbicara dengan laki-laki-aku bahkan tak pernah mengirim pesan pribadi pada seorang pun sebelumnya. Aku percaya sedang melakukan hal yang benar. Setelah menyelesaikan kuliah, aku mulai serius memikirkan pernikahan. Aku sedikit malu untuk meminta orang tua mencari untukku, jadi aku memutuskan mencoba aplikasi perjodohan sendiri. Setelah menyaring banyak yang tidak serius, aku menemukan seseorang yang tampak benar-benar berkomitmen pada pernikahan dan deen, yang paling penting bagiku. Dia juga sangat muda, 19 tahun, dan kami memiliki pandangan serupa tentang pernikahan, keluarga, dan Islam. Kami melakukan nikkah cukup cepat setelah beberapa bulan panggilan telepon-orang tuaku tahu, meski mereka ingin aku menunggu, dan dia agak mendesakku. Dia adalah laki-laki pertama yang pernah aku ajak bicara dengan benar, dan aku menyukainya; kami memiliki selera humor dan nilai-nilai yang mirip. Aku tak ingin melewatkan kesempatannya, khawatir itu mungkin tak datang lagi. Aku pindah beberapa jam jauhnya ke kotanya, dan segera aku hamil. Segalanya baik, tidak sempurna, tapi baik, dan sejujurnya kukira akan menghabiskan seluruh hidupku bersamanya. Setelah bayi lahir, segalanya berubah. Kami punya lebih banyak perselisihan, masalah dengan ibu mertua muncul, dan dia mulai menjauh. Kemudian, aku menemukan dia mendaftar di aplikasi kencan tak lama setelah bayi kami lahir. Aku memaafkannya. Baru-baru ini, aku mengetahui dia pernah mengirimkan uang ke perempuan lain untuk, ya, kamu bisa menebak untuk apa. Patah hati oleh pengkhianatan itu-aku tak pernah bisa membayangkan bersikap tidak setia seperti itu-aku pergi tinggal bersama keluargaku. Dia bilang kalau aku pergi, aku akan berakhir sebagai ibu tunggal dan 'aib,' bahwa tak ada yang akan menginginkanku. Lalu, dia menceraikanku lewat telepon. Aku tak pernah menyangka akan sampai ke situ. Saat ini, aku merasa sangat sedih, terutama kecewa dengan kenaifanku sendiri. Aku merasa sangat sedih untuk anak kami. Aku bertanya-tanya apakah yang dia katakan tentang menikah lagi itu benar. Sepertinya orang sering memakai topeng, hanya menunjukkan apa yang ingin mereka perlihatkan pada orang lain. Aku tak tahu apakah aku akan bisa mempercayai seseorang lagi. Yang kuinginkan hanyalah kehidupan keluarga yang damai dan bahagia, dengan suami sebagai sahabat terbaik untuk berbagi segalanya. Stigma seputar ibu tunggal di komunitas kami juga membebani pikiranku. Adakah yang punya saran untuk keluar dari kebuntuan ini? Aku sering terjebak di rumah dengan bayiku dan tak yakin bagaimana melangkah ke depan. JazakAllah khair untuk dukungan atau ide apa pun.