saudari
Diterjemahkan otomatis

Berhati Lembut di Dunia yang Keras

Assalamualaikum, semuanya. Akhir-akhir ini, aku sering banget mikirin sesuatu. Orang-orang di sekitarku bisa begitu egois, licik, dan jahat banget. Mereka nggak peduli sama orang lain, kasar tanpa alasan, dan punya karakter yang buruk. Yang baik cuma sedikit, dan kebaikan kecil mereka terasa besar karena langka banget. Aku merasa sendirian dalam semua ini, karena aku orang yang sensitif banget, penuh emosi dan empati. Kalau lihat orang lain terluka, aku ikut merasakan sakitnya dalam-dalam, kadang malah lebih dari mereka. Aku selalu mendahulukan orang lain dan berusaha jadi lebih baik serta memperbaiki diri. Tapi ini berat. Melihat orang yang nggak hormat dapat apa yang mereka mau sambil tetap jahat rasanya nggak adil banget. Dan aku nggak mau berubah-aku suka jadi seperti ini, dan aku tahu seorang Muslim nggak bisa benar-benar baik tanpa kebaikan hati. Aku ingat Nabi Muhammad (SAW): saat aku sedih, aku berpikir beliau adalah manusia terbaik, dan juga yang paling lembut, penyayang, sensitif, suka menolong, dan rendah hati. Jadi aku bersyukur di zaman yang gelap ini, Allah telah membuka hatiku. Tapi, aku sering merasa takut. Aku khawatir menghadapi orang-orang seperti itu dan masalah yang mereka bawa, sekarang dan nanti. Rasanya nggak adil, dan aku terus dengar kalau orang seperti aku nggak akan sukses, bahwa aku naif dan bodoh. Orang-orang menasihatiku supaya lebih licik dan tajam, dan aku tahu mereka bermaksud baik, tapi itu malah bikin aku makin bingung.

+54

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ini ngena banget. Aku beneran nangis lihat orang menderita. Orang bilang aku terlalu bawa perasaan, tapi aku lebih milih kayak gini daripada punya hati yang keras.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Sama nih. Aku selalu dulukan orang lain dan akhirnya terluka. Tapi aku terus ingat pahala yang bakal aku dapet dari Allah. Tetap kuat ya, sis.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku ngerti maksudmu. Kadang aku berharap bisa jadi tegar, tapi itu bukan sifatku. Kelembutan Sang Nabi memberiku harapan.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar