saudari
Diterjemahkan otomatis

Apa yang Membantuku Akhirnya Menerima Kesulitan dan Menemukan Kedamaian di Dalamnya

Aku bukan seorang ulama, cuma berbagi apa yang kualami. Waktu masih muda, hidup terasa begitu keras sampai aku ingin menyerah berkali-kali, dan saat umur 14 aku bahkan berpikir lebih gampang pura-pura nggak percaya sama Allah daripada merasa Dia marah padaku. Aku benci kalau orang bilang "itu karena Allah sayang padamu" karena jujur, beberapa penderitaan sama sekali nggak terasa seperti kasih sayang, dan aku cuma nggak bisa memahaminya. Aku cuma bicara dari pengalamanku sendiri di sini-aku nggak mau memicu siapa pun. Rasanya aku cuma nyaris bertahan hidup di setiap bagian hidupku. Lalu semuanya jadi jauh lebih buruk sampai aku benar-benar sendirian dan tahu nggak ada yang bisa memperbaikinya. Saat itulah aku berpaling kepada Allah. Aku dulu bicara pada-Nya seperti: Aku bener-bener nggak ngerti, aku mencoba menerima ini karena nggak ada pilihan lain tapi aku nggak bisa. Aku cuma mencurahkan hatiku, seperti bicara sama seseorang yang lebih tua dan bijak, seperti kalau kamu punya ayah yang kamu tahu selalu bisa membereskan segalanya atau setidaknya membantu. Aku nggak bohong pada-Nya. Aku benar-benar bilang aku nggak bisa lihat gunanya, aku nggak bisa lihat kebaikan apa pun yang muncul dari ini, dan yang paling penting aku merasa sedih banget dan seperti nggak pantas menerimanya. Yang berubah buatku adalah pas aku benar-benar menyerah. Jujur, aku nggak punya pilihan. Aku cuma biarkan dan minta Allah yang mengurusinya karena Dia tahu aku udah nggak sanggup lagi. Dan perlahan-lahan semuanya jadi lebih baik. Kadang aku terkejut, kadang nggak terlalu. Saat orang bicara soal kesulitan, rasanya seperti kamu harus langsung berubah 180 derajat setelahnya, dan di beberapa bagian hidupku itu memang terjadi, alhamdulilah. Membaca Al-Qur'an dan kisah Nabi Muhammad ﷺ, aku mengerti sesuatu yang menurutku kurang dibicarakan. Allah sangat peduli dengan perasaan kita. Dia nggak pernah bilang kamu harus menyerah dengan sempurna tanpa keraguan. Dia bilang berimanlah pada-Ku dan bersabarlah. Allah begitu sering menghibur Nabi, dan Dia nggak cuma bilang "itu karena Aku sayang padamu." Dia benar-benar mengakui emosinya. Saat aku menyadari ini, aku belum pernah merasa sebegitu divalidasi seumur hidupku. Aku pernah dengar seorang saudari bilang sesuatu yang terus nempel di pikiranku: pas kamu hadapi kesulitan, mungkin sulit buat menerimanya atau melihat pertumbuhannya, tapi coba bersyukur pada Allah dan berpikir "alhamdulilah, Allah melihat pertumbuhan dalam diriku bahkan saat aku nggak melihatnya. Allah percaya padaku bahkan saat aku masih nggak percaya sama diri sendiri." Jangan dipaksakan, ucapkan saja apa adanya. Aku punya banyak contoh, tapi menurutku lebih baik kamu coba sendiri dan renungkan. Karena pas kamu lihat masa lalumu, setiap kesulitan mengubah sesuatu dalam diri kita. Mungkin kita butuh rasa percaya diri, atau berdiri sendiri, atau jadi lebih peduli. Dan kamu masih harus mengingatkan diri sendiri tentang itu sesekali. Aku nggak mau ngomong jelek soal siapa pun, tapi menurutku ini contoh yang bagus: pas temanku meninggal di usia 19, aku dengar seorang perempuan bilang ke ibunya buat menghiburnya dengan bilang Allah ingin putrinya di surga dan itulah kenapa Dia mengambilnya. Niatnya baik, tapi pas aku dengar itu, aku jadi nggak suka Islam. Aku nggak suka kalau orang bilang begitu karena aku sama sekali nggak merasa disayang. Aku bakal mikir, oke jadi aku bisa aja ngelakuin hal lain buat masuk surga, atau ini salahku. Yang bantu aku menghadapi kematiannya adalah jujur menerima bahwa aku nggak tahu apa yang mungkin terjadi, aku nggak tahu apa masa depan buatnya, dan Allah Maha Penyayang. Itu memberiku kedamaian yang jauh lebih besar. Saat aku ingin seseorang mengingat Allah, aku ingin mereka memikirkan saat-saat mereka merasakan rahmat-Nya, kasih-Nya, ampunan-Nya. Bagaimana beberapa orang hadir dalam hidup kita dan memberkati kita. Saat-saat kita takut tapi entah bagaimana bisa melewatinya. Kita semua punya kenangan di mana Allah memberkati kita dan menunjukkan seperti apa rasanya dicintai oleh-Nya. Cuma itu. Aku harap semuanya jadi lebih baik dan kamu menemukan ketenangan dan kenyamanan.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Waktu kamu bilang kamu bicara sama Allah kayak seorang ayah yang bisa ngebenerin segalanya… tawakal kayak gitu yang aku pengen banget punya. Semoga Allah teguhin kamu terus.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wanita yang bilang ke ibunya kalau Allah mengambil putrinya untuk Jannah itu… rasanya sakit karena hal kayak gitu sering banget terjadi. Kamu kasih kata-kata untuk kesedihan yang lebih baik dari kebanyakan orang dewasa.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kedamaian yang tenang setelah kamu menyerah dan membiarkan Dia yang mengurus semuanya-aku juga pernah merasakannya. Itu hal terbaik, alhamdulilah.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ini bener-bener nyentuh hati banget. Apalagi bagian tentang nggak harus pasrah dengan cara yang sempurna. JazakAllah khair udah mau berbagi.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Begitu banyak hikmah dari seseorang yang bilang 'aku bukan ulama'. Itu ilmu sejati-pengalaman hidup. Kubagikan ini ke saudari-saudariku.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar