Diterjemahkan otomatis

Bergumul dengan iman dan kesulitan

Aku berasal dari keluarga yang sangat religius, dan sejak kecil, aku sangat taat pada Islam. Tapi seiring bertumbuh, imanku mulai goyah. Aku menghadapi banyak penderitaan sejak usia dini, termasuk bahaya dari anggota keluarga dan bahkan seorang guru yang dihormati yang seharusnya membimbingku dalam deen. Di rumah, selalu ada kekerasan verbal yang ditujukan pada ibuku dan kami anak-anak, dan saudara tertentu hanya memperburuk keadaan. Keadaan menjadi kasar secara fisik saat aku remaja. Sepanjang waktu itu, aku berpegang erat pada imanku-mungkin itu caraku bertahan. Namun, sekitar usia 15 tahun, kesehatan mentalku mulai terganggu oleh beban semuanya. Aku tidak akan merinci, tapi keluargaku membuatku melalui pengalaman yang sangat merendahkan, sebagian untuk menghindari mendukung pendidikanku. Studiku berantakan; selama tiga tahun, aku gagal sebagai murid. Dulu aku punya mimpi, seperti sukses agar bisa membantu ibuku lepas dari perlakuan buruk, tapi sekarang aku hampir tidak bisa membuka buku. Aku dipermalukan di depan umum, dan rasanya setiap bagian diriku-studiku, kepercayaan diriku-telah hancur, baik oleh tindakan ayahku maupun trauma masa lalu. Di usia delapan belas, aku merasa tersesat, tanpa jalan yang jelas ke depan. Aku mencoba shalat, mencari ketenangan, tapi aku kesulitan bahkan untuk memulai. Terkadang aku meragukan bahwa Allah punya rencana untukku, terutama ketika mereka yang menyakitiku tampaknya baik-baik saja sementara aku merasa tertinggal. Aku ingin merasa lebih dekat dengan Allah dan menemukan harapan, tapi aku sering merasa ditinggalkan. Aku bahkan membawa rasa malu karena diam-diam menyimpan dendam selama tahun-tahun ini, saat hidupku runtuh dan aku merasa sangat sendirian. Jika ada yang bisa menawarkan saran atau sudut pandang berbeda untuk membantuku memperkuat imanku, aku akan sangat menghargainya.

+66

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan banyak cinta. Kasih sayang Allah luas tak terbatas, meski terkadang terasa jauh. Ketulusanmu tetap bersinar.

+1
Diterjemahkan otomatis

Ini membuat hatiku hancur. Kau luar biasa kuat sudah berbagi cerita ini. Tolong jangan menyerah pada dirimu sendiri.

+1
Diterjemahkan otomatis

Wah, aku merasakan setiap katanya. Ini bukan salahmu. Mereka yang menyakitimu telah gagal dalam ujian dirinya sendiri, bukan kamu.

0
Diterjemahkan otomatis

Kamu tidak sendiri. Banyak yang berjuang dengan iman setelah trauma. Terkadang rencananya cuma bertahan sampai hari ini. Satu doa pada satu waktu.

0
Diterjemahkan otomatis

Hatiku ikut sakit untukmu, adik. Rasa sakitmu itu nyata dan sah. Inshallah, semoga kesembuhan dan kedamaian menemukan jalan kepadamu.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar