Mencari Bimbingan tentang Hubunganku dengan Seorang Muslim dan Ketertarikanku pada Islam
As-salamu alaykum. Aku seorang Latina yang diam-diam mulai belajar Islam, dan aku lagi menjalin hubungan sama seorang pria Muslim. Kuharap kamu bisa jawab beberapa pertanyaanku, dan saran apa pun juga akan sangat membantu. Beberapa bulan sebelum Ramadan, aku beli Al-Quran. Alasannya, sejak aku kenal pria Muslim ini (kami lagi saling dekat), dia suka cerita tentang agamanya. Dia nggak maksa aku pindah agama, dan aku juga nggak berencana begitu. Dia ngomong soal salat lima waktu-aku pernah lihat dan dengar salatnya meski aku nggak ngerti bahasa Arab. Sesekali dia ngomongin Islam, dan aku selalu suka dengerinnya dan makin penasaran. Pas aku dapat Al-Quran, aku coba baca tiap malam sebelum tidur. Awalnya aku nggak bilang ke dia karena ini urusan pribadi. Aku lagi mencoba cari tahu di mana keyakinanku cocok. Aku nggak suka nggak tahu aku ini milik yang mana, selalu nggak yakin. Tapi kurang dari dua minggu setelah beli, aku cerita ke dia karena aku kesal sama omongannya. Dia bilang aku harus mulai salat, biar bersyukur dan berterima kasih ke Allah atas apa yang aku punya. Dia bilang nggak baik kalau nggak percaya, dan aku mending langsung belajar salat, nggak peduli gimana caranya. Apa aku berlebihan? Mungkin iya. Aku kesal karena rasanya dia pikir aku nggak bersyukur. Aku nggak tahu cara salat-aku nggak pernah diajarin. Yang kulakukan cuma ngomong sendiri dan berharap ke Tuhan biar keadaan berubah. Jadi aku bilang ke dia kalau aku lagi coba belajar agamanya, aku nggak pernah ditunjukin cara salat, dan aku nggak tahu sama sekali di mana posisiku soal iman. Dia minta maaf, bilang dia nggak bermaksud begitu, dia nggak nuduh aku nggak bersyukur. Dia agak senang aku coba mengerti Islam, tapi nyuruh aku berhenti kalau aku maksa diri. Pas aku bilang aku beneran pengen belajar, dia mulai nanya-nanya-kayak bab berapa yang lagi kubaca, pendapatku soal Al-Quran-dan bilang dia bangga. Sekarang, bacaanku masih kurang dari 50 halaman. Aku tinggal sama orang tuaku dan beberapa saudara-rumah nggak pernah sepi. Pas baca Al-Quran, aku santai aja karena aku mau beneran paham. Tapi suara apa aja gampang ganggu fokusku; aku mesti baca ulang kalimat berkali-kali sampai beneran sunyi. Aku baca Al-Quran dalam bahasa Inggris karena aku nggak ngerti Arab. Aku Latina yang cuma bisa bahasa Inggris. Aku nggak bisa Spanyol, meski aku ngerti banyak karena kakek-nenekku cuma ngomong Spanyol ke aku waktu kecil-aku jawab pakai bahasa Inggris, dan mereka lanjut pakai Spanyol. Yang lain bisa dua-duanya. Aku selalu percaya sama Tuhan. Seluruh keluargaku Kristen, percaya Yesus itu Tuhan. Agama bikin aku takut karena dulu, setelah adik-adikku yang lebih kecil nanya apa aku percaya Yesus itu Tuhan dan aku jawab nggak, mereka bilang aku bodoh dan bakal masuk neraka. Aku langsung nutup diri soal agama setelah itu. Yang selama ini aku percaya cuma Tuhan itu nyata, dan Tuhan itu Tuhan-nggak lebih, nggak kurang. Sejak Ramadan, aku mutusin berhenti makan daging babi. Aku nggak sengaja makan sekali dua kali, tapi setelah itu aku hindarin. Keluargaku nggak tahu; aku coba diam-diam aja. Pas bapakku masak babi, aku makan lauknya pelan-pelan, hindarin yang kena babi, terus masukin ke microwave buat orang lain atau kasih ke anjingku. Aku takut mereka bakal nilain, bilang gara-gara pria itu. Bibiku udah beberapa kali ngomong gitu, dan itu bikin aku kesal-kenapa nggak bisa dibilang aku emang nggak suka babi? Dari dulu itu daging paling nggak aku suka; bau dan rasanya ganggu aku, jadi berhenti itu gampang. Ngomong-ngomong, dia udah ketemu keluargaku, jadi mereka tahu dia Muslim, nggak makan babi, dan kami nggak boleh pacaran. Mereka nganggep perubahan apa pun gara-gara dia. Pria ini udah ketemu sebagian besar keluargaku, tapi aku belum ketemu keluarganya. Dia pernah cerita soal aku ke saudara-saudaranya, tapi belum ke orang tuanya. Kami nggak tahu apa yang bakal terjadi kalau orang tuanya tahu dia sama perempuan non-Muslim. Dia mau nikah setelah lulus kuliah setahun lagi, sementara aku masih dua sampai tiga tahun lagi. Dia orang yang baik, hebat-satu-satunya yang pernah sama aku. Aku tahu cuma aku yang pernah dia perlakukan kayak gini, dan kami udah intim tapi belum sepenuhnya. Kami berdua masih perawan, dan dia pengen kami jadi yang pertama buat satu sama lain secepatnya. Pas pertama kali dia nyentuh aku secara intim, dia merasa sangat bersalah dan pergi, mikir itu salah. Dia udah coba nggak terlalu mikirin, tapi tetap kebawa beban. Setelah berminggu-minggu mikir, dia mutusin dia siap lanjut sama aku, bilang dia nggak bakal nyesel atau ngerasa bersalah, dan dia udah rencanain aku jadi istrinya. Dia juga nanya apa anak-anak kami boleh jadi Muslim, dan aku setuju-aku nggak masalah soal itu. Jadi aku nanya: apa ada harapan buat kami? Apa orang tuanya bakal ngijinin dan nerima pernikahan kami? Buat pria Muslim yang punya istri non-Muslim: apa keluargamu nerima? Kalau nggak, apa yang kamu lakuin? Terus, sebenernya di mana posisiku soal agama? Aku nggak tahu sama sekali. Dengan Islam, aku ngerasa aku nggak bakal dianggep Muslim kalau nggak pakai jilbab atau salat berkali-kali sehari. Aku nggak pakai baju seksi-biasanya aku pakai legging biar nyaman-tapi aku denger baju ketat itu nggak sopan karena nunjukin bentuk badan. Aku emang mau nikah sama pria ini, dan dia kayaknya serius. Gimana kalau kami jadi yang pertama buat satu sama lain terus dia pergi? Apa mungkin aku kena omongan manis? Kami udah jalan enam atau tujuh bulan. Dia punya sedikit masalah di rumah dan mungkin beberapa tanda bahaya kecil, tapi nggak ada yang serius. Kalau ada yang ganggu aku dan aku bilang ke dia, dia benerin, dan begitu juga sebaliknya. Beberapa hari terakhir, aku coba bikin doa. Tiap malam sebelum tidur, habis mandi dan seharian kerja atau belajar, aku naik ke kasur (sekitar tengah malam sampai jam 2 pagi), tutup mata, genggam tangan buat nyaman, dan bisik sendiri. Aku berdoa dalam bahasa Inggris, mulai dengan terima kasih ke Allah buat segalanya, bilang aku harus bersyukur. Terus aku bilang, "Allah, aku berdoa semoga Engkau lindungi..." dan curhat sepenuh hati. Biasanya aku nangis, dan kadang aku nggak sengaja ketiduran semenit atau dua dengan air mata di wajah, terus kebangun, lanjutin, dan tidur lagi. Aku coba akhiri dengan terima kasih ke Allah dan bilang selamat malam. Aku nggak tahu apa doaku udah bener-aku nggak baca dari Al-Quran karena aku belum hafal atau banyak baca. Bimbingan apa pun berarti banget buat aku. JazakAllah khair.