Menavigasi Perasaan: Apa yang Diperbolehkan Saat Kamu Mengagumi Seseorang dalam Islam?
Ada perpustakaan yang luar biasa di kotaku, cocok banget buat belajar. Aku mulai sering ke sana sekitar Oktober 2025, kadang dua atau tiga kali seminggu. Selama libur musim dingin, aku malah lebih sering ke sana karena butuh fokus banget sama pelajaran. Ada seorang akhwat yang hampir tiap hari ada di sana-kapanpun aku datang, dia juga ada. Sebenarnya aku ingat dia karena kita pernah naik bus yang sama dekat perpustakaan itu di Maret 2024. Alasanku ingat dia agak aneh: sempat terpikir iseng buat narik rambutnya (nggak kulakukan, tentu saja!). Waktu aku lihat dia lagi di tahun 2025, ingatan itu muncul, tapi awalnya aku nggak terlalu memikirkannya. Tapi pelan-pelan, aku mulai bertanya-tanya dalam hati, 'Kapan ya dia datang hari ini?' Aku jadi memperhatikan kehadirannya, dan pikiranku bahkan mencatat jam biasa dia datang. Aku mulai menantikan waktu salat bukan cuma buat ibadah, tapi juga buat liat dia turun ke lantai satu untuk salat (mushola ada di lantai satu, dan dia biasanya duduk di lantai dua). Aku biasanya lebih suka lantai dua karena lantai satu kadang ramai, tapi pas musim dingin, lantai dua kepanasan karena AC-nya, jadi terpaksa pindah ke bawah. Pokoknya, aku sadar aku suka sama dia. Jujur sama diri sendiri, aku mengakui, 'Oke, aku punya perasaan buat lelaki ini. Gimana dong? Nggak boleh aku bertindak atas perasaan ini.' Dari yang kulihat, dia itu orangnya alim banget-salatnya tepat waktu, sering jadi imam di perpustakaan, dan suaranya merdu waktu baca Quran. Dia selalu menundukkan pandangan dan menghindari ngobrol sama perempuan, plus dihormati dan disukai sama staf perpustakaan. Aku bilang ke diri sendiri, aku nggak mau jadi penyebab dia berbuat salah. Meski cuma sekadar memperhatikan atau melirik, dia bisa sadar, dan itu bisa bikin dia lebih susah buat menjaga interaksi yang sesuai. Jadi, aku putuskan buat menjaga jarak dan mengagumi dia dari jauh tanpa sepengetahuannya. Ini caraku coba hindari bertindak atas perasaanku: 1. **Tempat duduk:** Meski musim panas udah tiba dan lantai dua udah nyaman lagi, aku tetap di lantai satu walau ramai dan ada beberapa kejadian yang kurang nyaman. 2. **Waktu salat:** Dulu aku nggak selalu tepat waktu salat, tapi liat dia salat tepat waktu menginspirasi aku buat ikutan tepat waktu. Aku bakal nungguin dia pergi ke mushola tanpa dilihatnya, terus aku masuk buat salat dan pergi setelah dia selesai supaya nggak ketemu. 3. **Istirahat di luar:** Kalau dia keluar buat cari udara segar, aku pastiin nggak keluar di waktu yang sama. 4. **Naik bus:** Dulu kita biasa naik bus yang sama pulang, dan aku nggak mampu naik taksi tiap kali. Jadi, aku naik bus duluan dan pura-pura sibuk pas dia naik supaya nggak kontak mata. Tapi mulai ada kendala: 1. Lantai satu jadi terlalu mengganggu karena ada tatapan-tatapan yang nggak diinginkan, jadi aku balik lagi ke lantai dua, pilih tempat duduk yang jauh dari tempat biasa dia duduk. 2. Mengatur waktu salat yang pas jadi melelahkan, dan beberapa kali kita malah keluar dari mushola berbarengan. 3. Aku bisa menghindari keluar pas dia keluar, tapi dia nggak melakukan hal yang sama kalo aku lagi di luar, jadi sesekali kita sempat berpapasan. 4. Situasi bus berhasil karena sekarang aku pulang lebih awal daripada dia. Belakangan ini, aku ngeh dia melirikku beberapa kali-bukan melotot, cuma sekilas, dan pandangan kita sempat bertemu yang dulu nggak pernah terjadi. Rasanya dia sekarang udah kenal aku. Di satu sisi aku senang karena, ya, dia kan orang yang aku sukai dan aku penasaran dia mikir apa. Tapi aku juga khawatir: jangan-jangan aku tanpa sengaja melakukan sesuatu yang salah? Meski nggak berusaha, bisa nggak aku tanpa sadar ngasih sinyal? Aku beneran nggak bermaksud begitu. Harus gimana ya?