Berdiri Teguh Menentang Riba: Perjuanganku
Sebagai perempuan lajang, aku kerap dianggap sudah lewat dari 'usia umum' untuk menikah di lingkunganku. Baru-baru ini, datang lamaran dari seorang pria yang bekerja di bank. Aku menolak karena riba jelas-jelas diharamkan dalam Islam, dan itu dosa besar. Keluargaku, meski begitu, sangat ingin aku menerimanya. Aku sudah coba jelaskan bahwa ini dari Al-Quran, tapi sekarang mereka mengucapkan hal-hal yang menyakitkan-bahwa aku sombong, bahwa sebentar lagi tak ada yang mau padaku, bahwa aku tidak cantik atau cukup terampil untuk 'berlagak angkuh.' Mereka memperingatkan bahwa kesombongan berujung buruk dan aku tak akan pernah menemukan pasangan yang baik. Sangat menyakitkan. Aku tidak menciptakan aturan ini; Allah memerintahkan kita untuk menjauhi riba. Tapi mereka mengingatkanku pada kesalahan masa laluku dan bilang hidup tidak sederhana, bahwa pilihanku akan mendatangkan penderitaan. Jujur, aku bingung. Aku sudah berbuat salah berkali-kali, bahkan dosa besar, dan aku merasa bersalah yang sangat setiap kali teringat. Sudah tiga tahun ini, aku berusaha membangun kembali hubunganku dengan Allah. Aku salat secara teratur, memohon ampunan, dan berhenti mendengarkan musik. Setelah semua usaha ini, aku tidak bisa dengan sengaja mendurhakai Allah lagi. Iya, aku masih terkadang tergelincir. Aku sedang berusaha. Tapi aku percaya jika penghasilan berasal dari riba, bahkan salat mungkin tak diterima. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seseorang yang mencari nafkah seperti itu? Aku sudah cukup berdosa; aku tidak akan masuk ke dalam dosa besar lain dengan sadar. Aku bahkan sudah berdoa kepada Allah untuk tidak mengirimkan lamaran dari bankir atau jodoh yang tidak cocok. Namun selama empat tahun, hampir setiap tawaran berasal dari bankir, pria yang tidak cocok, atau seseorang yang kusukai tetapi menolakku. Pola ini terulang, dan aku kelelahan. Keluargaku juga lelah denganku. Mereka selalu keras, tapi sekarang tinggal bersama mereka terasa tak tertahankan. Pernikahan seakan menjadi satu-satunya jalan keluar. Kalau aku menikahi bankir ini, hidup mungkin jadi lebih mudah… tapi aku menolak untuk mendurhakai Allah dan dengan sengaja melakukan dosa besar. Mereka menyebutku tidak realistis, bilang aku tak akan pernah menemukan orang yang kuinginkan. Aku merasa putus asa, dengan begitu banyak serangan panik. Aku takut kata-kata mereka mungkin benar. Tapi, aku berpegang pada harapan bahwa Allah akan memberikanku sesuatu yang lebih baik. Aku percaya pada 'La hawla wa la quwwata illa billah.' Jika Allah menolong Musa (AS), Dia bisa menolongku juga. Aku tahu aku tidak seperti para Nabi. Aku kurang sabar, dan gampang menangis ketika orang berkata hal negatif. Aku berdosa tiap hari, tapi aku yakin rahmat Allah melampaui segalanya. Mereka bilang aku berkhayal karena berpikir seperti ini… benarkah aku begitu?