saudari
Diterjemahkan otomatis

Menemukan Jalan Kembali ke Islam

Salam semuanya, maaf kalau ini agak berantakan, aku nulisnya buru-buru. Jadi aku tinggal di negara Muslim Afrika Utara sampai umur 11 tahun, terus kami pindah ke Barat. Aku masih bisa bahasa Arab, tapi udah menurun soalnya sekarang lebih sering pakai bahasa Inggris. Sekitar umur 8 tahun, aku berhenti shalat dengan benar dan bolos wudu-sejujurnya cuma karena malas. Awalnya cuma sekali-sekali, terus jadi kebiasaan, tapi aku tetap merasa diriku Muslim. Setelah pindah, keimananku awalnya nggak masalah besar. Selama satu atau dua tahun aku masih taat dengan caraku sendiri-aku percaya sama ajaran-ajarannya dan bilang ke orang kalau aku Muslim. Tapi orang tuaku, terutama ibuku, bikin masalah besar soal kesopanan dan itu bikin aku menjauh. Hubungan kami tidak baik, dan aku masih menyimpan dendam, sebagian karena mereka terus-menerus mempermalukan aku pakai Islam. Buat perempuan, Islam sebenarnya oke-oke aja kalau bukan karena tekanan soal kesopanan dan budaya ''aib''. Jujur, tanpa itu, aku nggak akan ada masalah. Akhirnya aku malah memberontak terhadap agama cuma buat ngeselin ibuku, bilang kayak "Berhenti memaksakan agamamu padaku." Aku nggak pernah pakai hijab kecuali waktu shalat, dan aku nggak tertarik sama itu. Lingkaran pergaulanku beragam; aku punya satu teman Muslim tapi belum pernah curhat ke dia-rasanya bukan masalah besar. Sejujurnya, aku pakai Islam dengan egois-cuma mendekat waktu butuh sesuatu, jadi sekarang aku takut kembali, mikir doaku mungkin nggak diterima. Aku cuma nyari bimbingan, bukan penghakiman. Tolong doakan aku ya.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, kejujuranmu itu indah. Jangan biarkan setan meyakinkanmu kalau doa-doamu nggak akan diterima. Rahmat Allah itu lebih besar dari dosa apa pun. Mulai dari yang kecil aja, meskipun cuma satu doa yang tulus. Aku bakal mendoakanmu selalu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Fakta bahwa kamu khawatir untuk kembali itu menunjukkan hatimu masih lembut. Abaikan omongan soal aib budaya yang nggak penting, fokus aja sama hubunganmu dengan Allah. Dia tahu perjuanganmu.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar