apakah haram memutus silaturahmi dengan kakakku setelah semua yang dia lakukan
assalamualaikum semuanya, maaf ini bakal agak panjang tapi aku cuma butuh curhat dan pengen tahu apa aku berdosa gara-gara perasaanku dan nggak ngomong lagi sama dia. kakak laki-lakiku, umur pertengahan 20an, udah bikin masalah sejak awal. waktu kecil dia selalu bandel, sekolah sering nelpon orang tuaku. pas SMP makin parah, dia bolos buat ngerokok ganja dan jualan narkoba. nilainya anjlok. jujur aku nggak ngerti kenapa dia nyemplung ke kehidupan kayak gitu, kita nggak miskin-kelas menengah atas, lingkungan bagus, orang tua kita muslim yang baik dan nggak pernah bikin trauma. nggak ada alasan selain dia tertarik sama hal-hal haram. ibu bapakku yang malang stres terus, mereka tuh sayang banget dan nggak pernah bisa tenang. waktu SMA dia jarang masuk, pergi dari rumah dan kami dapat telepon absen. dia makin dalam jualan narkoba, polisi hampir nangkap dia. dia bisa hilang berhari-hari. orang tuaku, yang tegas tapi penuh kasih, hancur. mereka kirim dia ke negara asal buat nyelesaiin sekolah, harapannya jarak bisa benerin dia. dia tinggal di sana sekitar lima tahun sama saudara tapi tetep aja bergaul sama orang-orang nakal, langgar jam malam, bahkan pernah ditahan gara-gara masalah geng-keluargaku pakai koneksi buat ngebebasin dia. masalah terus aja dan orang tuaku selalu nolongin dia. mereka habisin banyak duit, mungkin sekitar 100ribu dolar, buat sekolah swasta di sana dengan harapan lingkungan bagus bisa bantu. nggak ngaruh. dia balik sekitar umur 20, dapet kerja sambil kuliah tapi tetep bohong soal ke mana dia pergi, nggak peduli jam malam. bapakku orang baik tapi kalau marah dia suka kasar ke ibu, mereka sering berantem. ini terjadi tiap hari bertahun-tahun. bener-bener melelahkan, toxic. mungkin kalian mikir kenapa aku benci banget sama dia. tahun lalu, sekitar Maret, dia kehilangan kerjaan, stres gara-gara "tagihannya"-nggak tahu tagihan apa, dia tinggal sama kami dan bapak yang bayar mobil dan biaya kuliahnya. dia mulai jualan narkoba lagi, parah. nolak kerja paruh waktu karena egonya, katanya itu merendahkan. dia bahkan nggak cari kerja, cuma bohong dan ngejar kehidupan haram di jalanan. pergi semalaman, agresif, nggak hormat. dia ditahan karena penyerangan, seminggu di penjara terus tahanan rumah. tinggal sama dia pas tahanan rumah itu ngubah segalanya. dulu aku biasa aja, aku masih muda dan nggak ngerti sakitnya orang tuaku. tapi dia jadi yang terburuk. dia suka ngundang temen-temennya yang pemadat malem-malem buat "ngobrolin kasusnya" tapi ternyata cuma minum-minum dan main-main. aku dan ibu akhirnya tahu-aku nggak pernah nyangka dia bakal minum alkohol. suatu malem, jam 1 pagi, temen-temennya ada di rumah, ibu suruh mereka pergi. aku denger ibu teriak nangis yang belum pernah aku denger sebelumnya, aku lari ke bawah dan lihat dia dorong ibu ke tangga. ibu jatuh ke aku, nangis sambil bilang dia dipukul. ibu kena serangan panik, mukulin diri sendiri, bilang betapa capeknya dia-kakakku nggak pernah kasih dia ketenangan, nggak sejak lahir. aku coba tenangin ibu sementara dia berdiri di depan kami sambil bilang ibu gila. dia banting bantal ke muka ibu, ibu hampir kehabisan napas. aku tarik bantalnya, terus dia balikkin meja ke arah ibu, aku nahan entah gimana. aku bawa ibu ke kamarnya, serangan itu berlangsung berjam-jam. aku takut banget, bapak lagi kerja shift malem, dan kakakku bener-bener berbahaya. aku harus bohong dan pura-pura setuju sama dia biar selamat. besoknya aku konfrontasi dia pas sadar, dia bilang bakal ngelakuin lagi. nggak ada penyesalan. aku benci dia. dia menjijikkan. selama bulan-bulan tahanan rumah itu, dia mabuk dan nyiksa kami tiap malem, mabuk marah-marah, ngomel dan nakut-nakutin. nggak bisa tidur. aku lagi kuliah S1, gagal satu mata kuliah gara-gara nggak bisa fungsi. takut di rumah sendiri. dia juga pernah nyerang bapak. orang tuaku bayar puluhan ribu buat pengacara dan tagihannya, dia perlakukan kami kayak sampah dan dapet perlakuan kayak pangeran. masa tahanan rumah selesai bulan Mei, dia langsung balik jualan narkoba-padahal tuduhan narkoba udah dibatalkan secara ajaib. egois banget. orang tuaku kirim dia ke negara asal lagi buat tinggal sama paman. paman udah coba bantu tapi dia nggak berhenti minum dan pakai narkoba. ibu masih bayarin biayanya, aku marah banget. dia nggak pantes dapet itu. ibuku masih ngeliat dia kayak bayi, dia tuh penyayang banget. dia bahkan nipu rekening bank bapak ambil ribuan. nggak punya hati. aku udah nggak ngomong sama dia berbulan-bulan. aku nggak bisa. dia bikin aku trauma. bulan-bulan dia mabuk dan kasar itu ngubah aku. aku merasa mual lihat mukanya atau fotonya, suaranya di telepon bikin aku panik. aku baru tahu dia juga mukulin istrinya (dia udah nikah, bukan pacar-astaghfirullah). dia buruk banget. aku benci masalah yang masih dia timbulin, tadi aja ada kejadian. ibuku udah nggak sama lagi, dia suka bengong, selalu khawatir, jarang ngomong. dia udah nyuri ibuku. kadang aku hindarin ibu karena nggak tahan lihat dia kayak gini. dia bilang rasanya mau mati kena serangan jantung atau masuk rumah sakit. aku cuma dengerin, nggak bisa apa-apa. aku mutusin silaturahmi. aku tahu mutus tali keluarga itu dosa besar, tapi apa aku salah benci dia dan nggak ngomong? aku bener-bener nggak nyaman, marah, kesal sama keberadaannya. dia bukan laki-laki, cuma anak kecil. aku doa semoga Allah ampuni aku, kadang aku berharap dia meninggal biar kami akhirnya bisa hidup tenang. astaghfirullah kalau itu salah. tolong kasih tahu, apa aku berdosa? btw aku 22 tahun cewek, jadi adik perempuan bikin makin serem karena beda kekuatan. jazakAllah khair udah baca.