saudari
Diterjemahkan otomatis

Menghadapi kecemasan sebagai mualaf dan menghadapi kritik dari orang lain

Assalamu alaikum! Aku masuk Islam belum lama ini setelah lebih dari setahun belajar dan membaca, dan alhamdulillah, itu perubahan yang indah. Tapi belakangan, aku bergumul dengan perasaan berat ini-rasanya seberapa pun aku berusaha, aku selalu merasa kurang. Ada kekosongan dan ketakutan bahwa aku sedang berbuat salah, dan itu melelahkan. Selain itu, waktu aku ngobrol sama Muslim dari lahir, mereka sering menunjukkan kesalahanku atau mengoreksi dengan cara yang terasa kasar. Aku jadi merasa dihakimi dan benar-benar cemas. Aku tahu belajar itu butuh waktu, tapi susahnya kalau rasanya nggak ada yang kulakukan cukup baik. Gimana caranya kalian menghadapi tekanan untuk sempurna dan kritik dari orang lain? Gimana kalian membangun ikatan yang tenang dan dekat sama Allah tanpa tersesat dalam semua aturan? Jazakumullah khairan atas sarannya. Aku ingin banget denger dari mualaf lain atau siapa pun yang punya pengalaman. Semoga Allah membimbing kita semua. Aamiin. ❤️

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kritik keras itu bikin ilfeel banget. Nabi dulu lembut sama mualaf. Abaikan aja yang kasar, cari guru yang baik atau grup mualaf online. Semoga Allah tenangkan hati kamu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aduh, aku banget ngerasain ini. Kadang yang lahir Muslim suka lupa betapa susahnya belajar semuanya dari nol. Santai aja sama diri sendiri, Allah itu Al-Ghafur kok.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sebagai seorang mualaf dari Brasil, aku benar-benar paham. Pernah ada yang mengoreksi salatku dengan kasar dan aku sampai nangis. Tapi aku belajar untuk bilang 'Jazakallah khayr' lalu melanjutkan hidup. Kamu nggak sendirian.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar