saudari
Diterjemahkan otomatis

Bergumul dengan hubungan sulit dengan ibuku dan merasa kehilangan arah

Assalamu alaikum, Aku menulis ini dengan hati yang berat karena aku nggak tahu harus curhat ke mana lagi. Aku anak perempuan tertua, dan jujur aja, ibuku nggak pernah benar-benar suka sama aku. Selama 19 tahun, dia bikin hidupku susah banget. Cuma berada dekat keluarga aja bikin hatiku terasa berat banget, kayak ada beban yang nggak bisa dijelasin. Tahun lalu, aku beruntung bisa mulai kuliah dan pindah sekitar sejam dari rumah. Itu sedikit membantu, tapi juga bikin semuanya makin parah. Aku merasa kayak orang asing di keluarga sendiri, kayak nggak punya tempat. Orang tuaku pengin aku pulang buat bantu ngurusin anak-anak dan segalanya, tapi secara mental, aku benar-benar nggak sanggup. Islam ngajarin kita buat hormat ke orang tua, dan aku udah coba, beneran, tapi aku nggak bisa maksain diri buat dekat sama mereka. Rasa bersalah terus menggerogotiku, apa pun yang kulakuin. Pas aku di rumah, aku nangis berhari-hari tanpa bisa kabur. Dan pas aku di kampus, aku nangis nginget masa kecil yang hilang dan perlakuan yang kudapat pas aku jauh. Yang bikin aku makin down sekarang adalah ibuku mulai ngomongin soal pernikahan. Aku baru aja 19 tahun, dan dia bilang karena aku milih pindah buat kuliah, dia yang bakal milihin suamiku nanti saat waktunya tiba. Hatiku langsung ciut. Setahun terakhir ini, dia sering banget nyalah-nyalahin aku karena pendidikanku, dan aku merasa bersalah banget bahkan cuma karena berusaha menyembuhkan diri sendiri. Masih banyak lagi ceritanya, tapi intinya: apa yang bisa kulakuin? Secara agama dan budaya, gimana caranya aku terus bertahan? Aku merasa tercekik dan lelah banget, kayak udah nggak sanggup lanjutin hidup.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, hatiku nyeri bacanya. Kamu nggak sendirian, banyak anak perempuan sulung yang nanggung beban kayak gini. Nggak apa-apa kok kamu jaga kesehatan mentalmu sambil tetap mendoakan dia. Allah lihat rasa sakitmu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku sangat paham perasaanmu. Kayak mereka lihat kamu bukan sebagai manusia, cuma pembantu aja. Kamu berhak kok bilang nggak. Semoga Allah kasih kamu kekuatan.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, ini keterlaluan banget. Dalam Islam, persetujuan seorang perempuan itu wajib buat pernikahan. Jangan sampai budaya dicampuradukin sama agama. Tetap kuat ya, dan mungkin cari orang tua atau imam yang bisa dipercaya buat jadi penengah kalau keadaannya udah kebangetan.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku minta maaf banget. Rasa berat yang kamu rasain-aku ngerti, deh. Teruslah berdoa, dan inget ya, Allah nggak akan ngasih beban ke jiwa seseorang di luar batas kemampuannya. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira, bahkan pas rasanya kayak udah nggak mungkin banget.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ya Allah, ini bener-bener ngena banget. Islam memang ngajarin berbuat baik ke orang tua, tapi bukan sampai mengorbankan kewarasan diri. Jaga batasan, sis. Dan jangan mau, dia nggak bisa maksa kamu nikah. Itu bukan ajaran Islam.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kamu bukan anak perempuan yang buruk karena memilih dirimu sendiri. Kadang jarak adalah satu-satunya cara untuk bernapas. Fokuslah sama kuliahmu dan lakukan istikharah soal pernikahan itu. Kamu punya suara dalam hidupmu sendiri.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Duh, rasa bersalah itu nyata banget, tapi itu bukan dari Allah. Dia Maha Penyayang. Luangkan waktu buat diri sendiri, sembuhin hati, dan percaya deh kalau kamu pantas dicintai. Omongan ibumu soal pernikahan-itu pemerasan emosional. Jangan sampai itu bikin kamu hancur.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar