Tekankan Muktamar Penentu Nasib NU, Gus Lilur: Persatuan Nahdliyin Jadi Taruhan Besar
Menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Agustus 2026, seruan rekonsiliasi internal menguat. Tokoh muda NU, Gus Lilur (Khalilur Abdullah Sahlawiy), menilai forum ini bukan hanya memilih pemimpin baru, tetapi juga menentukan apakah NU mampu menjadi rumah besar yang mempersatukan warga Nahdliyin di tengah fragmentasi dan tarik-menarik kepentingan politik. Ia menekankan perlunya figur pemersatu yang teduh, sederhana, dan mampu meredakan polarisasi.
Gus Lilur menyebut sejarah NU melahirkan tokoh seperti KH Ahmad Siddiq dan KH Sahal Mahfudz yang dikenang karena keteladanan dan kemampuan menjaga persatuan. Ia menegaskan kepemimpinan semacam itu sangat dibutuhkan saat ini agar muktamar tidak didominasi kepentingan elektoral, melainkan menjadi ajang rekonsiliasi yang memulihkan kepercayaan antarkelompok.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf sebelumnya mengingatkan agar muktamar tidak dijadikan batu loncatan menuju Pemilu 2029. PBNU akan berupaya mencegah forum ini menjadi arena politik elektoral. Mekanisme pencalonan tidak mewajibkan pengunduran diri dari jabatan struktural, namun ada larangan rangkap jabatan yang harus dipatuhi.
Muktamar Ke-35 dijadwalkan pada 1–5 Agustus 2026, ditetapkan dalam Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Bagi kader muda, muktamar ini strategis untuk menentukan arah hubungan NU dengan kekuasaan dan konsolidasi internal, dengan harapan NU keluar lebih bersatu.
https://mozaik.inilah.com/news