saudari
Diterjemahkan otomatis

Perilaku kejam ayahku karena aku menolak menikahi sepupunya dan menuruti semua perintahnya

Assalamu alaikum. Aku wanita 29 tahun yang pakai akun throwaway, dan aku cuma butuh curhat atau mungkin minta saran. Aku bahkan nggak yakin harus ngadu ke mana. Sekitar lima tahun lalu, aku dapet beberapa tawaran kerja dari UK. Aku excited banget sama salah satunya, dan terus ngabarin orang tuaku selama proses lamaran. Ayahku setuju aku boleh pergi, tapi dengan satu syarat: aku harus nikah sama keponakannya-anak laki-laki dari adiknya. Tumbuh dewasa, aku udah ngerasa ini mungkin bakal diminta, karena dari pihak ayahku emang kuat banget tradisi nikah sesama sepupu. Ibuku bukan sepupu ayah, dan keluarganya lebih maju dan fokus ke ajaran Islam ketimbang tradisi budaya. Aku selalu terbuka banget soal betapa aku nggak setuju sama hal ini. Kami asal Pakistan, tapi aku lahir dan besar di luar negeri, sekolah di sekolah internasional, dan ibuku juga ngerasa permintaan itu nggak masuk akal mengingat cara kami dibesarkan. Waktu aku nolak dengan sopan, dia marah banget, manggil aku dengan sebutan buruk-kaya kafir-dan sumpah serapah. Dia manipulasi emosiku, bawa-bawa soal susahnya keuangan buat neken aku. Aku tetap pergi, coba jaga jarak karena sakit hati, tapi ibuku mendesakku buat tetep kontak dan berusaha memperbaiki keadaan. Harus dicatat, dia selalu perlakukan ibuku dengan buruk-secara emosi, finansial, bahkan pernah fisik. Ibuku udah nahan banyak banget dan bergumul sama kesehatan mentalnya, nggak pernah punya hidup sendiri. Dua tahun lalu, dia bawa-bawa lagi soal sepupunya, ngaku kalau bibiku udah minta aku buat disandingkan. Katanya, sepupuku itu sebenarnya setahun nolak, tapi bibiku tetep jalan terus. Waktu aku dan adikku bilang ke ayah tentang ini, dia bilang bakal terbang ke UK buat ngurus “masalah sensitif” ini supaya hubungan nggak rusak. Aku sempet harapan, tapi malah dia diam-diam nyetujui lamaran itu tanpa sepengetahuanku-sepupuku ternyata bohong dan bilang iya di depan semua orang, padahal dia tahu aku bakal nolak, jadi aku yang disalahkan. Aku hancur, dan kali ini aku ngaku emang kelepasan emosi. Dia terus mohon-mohon supaya aku terima, yang bikin sedih sekaligus kaget. Pas dia pulang, dia ngomongin hal-hal keji tentang aku ke ibuku dan adik bungsuku-hal yang bahkan nggak bisa kuulangi. Aku jadi mati rasa total, dari yang tadinya emosional banget jadi nggak ngerasa apa-apa. Baru-baru ini, aku udah tunangan sama orang lain. Awalnya ayahku setuju, tapi setelah dia ngunjungi atau ngobrol sama adiknya, dia mulai ngina tunanganku. Dia belum bilang siapa-siapa di keluarga soal pertunangan ini dan ngelarang kami buat ngumumin, karena dia harus ngatur berita itu ke adiknya dulu. Aku maunya nikahan kecil di UK, tempat tunanganku tinggal, dan keluarganya setuju. Tapi ayahku maksa harus di negara asal kami, di desa yang jauh dari kota, biar dia bisa tunjukin ke komunitasnya kalau dia yang pegang kendali. Dia ngundang ratusan orang, termasuk saudara jauh, tapi teman-temanku dan saudara dari ibuku nggak bakal ada. Waktu dia ngunjungi dan diskusi soal ini, obrolannya sampe jam 2 pagi. Dia kejam, matanya penuh kebencian, dan meskipun aku udah berusaha sopan buat ngertiin dia, dia nuduh aku manipulasi emosi dan bilang banyak hal menyakitkan. Setelah dia pergi, aku tahu dia ngomong kaya gini, “Nanti setelah dia nikah bakal kuputusin dan nggak bakal kuajak ngomong lagi,” dan “Melahirkan dia adalah kesalahan terbesar.” Dia juga bohong ke adiknya, bilang aku nggak dukung keluarga atau nggak ngasih uang-padahal iya. Aku nggak paham gimana bisa orang tua ngomongin anak sendiri kaya gini. Aku coba berkompromi buat pernikahan yang bikin kami semua bahagia, tapi sekarang aku udah nyerah. Aku nggak mau ada hubungan apa pun lagi ke depannya; aku mau blokir di semua tempat. Aku capek dan mati rasa setelah bertahun-tahun ngerasain sakit ini. Aku tahu dia itu produk lingkungannya, tapi aku udah kehilangan harapan dia bakal berubah. Aku masih harus berurusan sama bibi itu dan keluarganya, dan aku benci itu. Aku kesal banget karena harus ngorbanin salah satu hari terpenting dalam hidupku gara-gara dia. Dan bahkan pas aku ngikutin maunya, dia tetep aja ngomongin hal-hal buruk. Dia pernah bilang, “Di atas ada Allah, dan di bumi, ayah itu kaya tuhan.” Ibuku ngerti perasaanku, tapi ngingetin kalau dia tetaplah ayahku. Aku punya banyak amarah dan dendam, dan susah ngakuinnya, tapi aku cuma capek banget dan udah selesai. Aku cuma nggak tahu lagi harus apa atau gimana ngerasainnya. Tolong doakan aku ya.

+29

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Komentar 'ayah itu seperti dewa' ya murni bawaan budaya, bukan ajaran Islam. Nggak ada yang bisa maksa kamu untuk taat sampai melanggar hak-hak Islami kamu. Tetap kuat, fokus aja sama nikkah kamu, dan jaga jarak dari kelakuan toxic-nya dia.

+2
saudari
Diterjemahkan otomatis

Kakak, tindakan ayahmu itu bikin hati hancur. Ingat ya, dalam Islam, orang tua harus adil, bukan malah menindas. Kamu punya hak buat nolak lamaran, apalagi kalau ada paksaan. Semoga Allah mudahkan jalanmu.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar