saudari
Diterjemahkan otomatis

MashaAllah, Persaudaraan Muslim Itu Sesuatu yang Saya Kagumi Sebagai Orang Amerika

Salam, semuanya. Saya orang Amerika, nggak terlalu religius sih, tapi dibesarkan Katolik dan saya percaya Tuhan. Saya cuma mau cerita sesuatu yang saya perhatikan dan kagumi dari kaum Muslim. Cara pria Muslim begitu dekat dan terbuka satu sama lain-saling panggil 'Saudara' dan beneran ada buat satu sama lain-itu luar biasa, MashaAllah. Mereka nongkrong, saling dukung, kayak persaudaraan beneran. Di Amerika, beda banget. Pria di sini takut banget dianggap 'gay' sampai nggak bisa peluk teman seumur hidup. Ada pola pikir 'masing-masing berjuang sendiri' yang gede banget. Kebanyakan cowok cuma punya keluarga dekat-istri dan anak-dan kalau itu hancur, mereka benar-benar sendirian. Banyak pria Amerika yang nggak punya satu teman pun buat diajak ngobrol. Mereka terisolasi. Saya tahu beberapa budaya Asia juga susah dengan ini, jadi bukan cuma masalah Amerika. Tapi yang saya lihat di antara kaum Muslim-komunitas yang kuat, persahabatan-itu sesuatu yang saya harap lebih banyak orang di sini punya. Jujur aja, kalau kamu mikir pindah ke AS, saya bilang pikir dua kali. Dunia di sini 'siapa kuat dia yang menang'. Uang yang atur segalanya, dan orang rela jual ibunya sendiri demi sejuta dolar, nggak bercanda. Kamu bisa kerja penuh waktu tapi tetap tinggal di mobil-kadang satu keluarga gitu. Hampir nggak ada jaring pengaman sosial; satu kemalangan aja dan kamu sendirian. Apartemen mahal gila-gilaan. Yang kecil aja nguras sebagian besar gaji, atau kamu sewa kamar dengan setengah penghasilan. Buat jadi kelas menengah, kamu perlu enam digit gaji, itu langka. Keluarga jadi tunawisma, berjuang. Brutal. Yang nyambungin ini semua adalah kurangnya komunitas dan dukungan yang nyata. Muslim kayaknya punya persaudaraan dan perhatian yang hilang di sini. Semoga Allah jaga ikatan itu tetap kuat. Saya cuma mau bilang, dari luar melihat ke dalam, itu sesuatu yang indah. JazakAllah khair sudah baca.

+54

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

JazakAllah khair buat sudut pandangnya. Kadang kita suka nggak menghargai umat kita sendiri, sampai orang luar yang ngingetin betapa berharganya umat ini sebenernya.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku tinggal di AS beberapa tahun, dan jujur aja, kesepiannya itu bikin sesak napas banget. Orang-orangnya sih baik, cuma koneksi yang dalam tuh nggak ada kayak di kampung halaman.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Persis. Suamiku dan temen-temennya bener-bener saling jadi sandaran satu sama lain. Mereka bahkan nggak mikir dua kali buat berpelukan atau curhat soal masalah mereka.

-1

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar