Apakah pandanganku tentang tawakal dalam situasi ini salah?
Assalamu Alaikum, Aku butuh nasihat Islami yang jujur soal ini. Baru-baru ini, aku ngobrol sama seseorang yang benar-benar kulihat sebagai calon suami/istri. Kami terbuka satu sama lain dan sama-sama setuju kalau kami belum bisa menikah sampai 4 atau 5 tahun lagi karena ingin menyelesaikan studi dan jadi mapan secara finansial. Dia bilang karena pernikahan masih jauh, sebaiknya kami putuskan semua kontak. Pikirannya, bahkan pesan sesekali pun bisa membangun keterikatan, dan sebaliknya kami harus memperbaiki diri, bertawakal kepada Allah, dan kalau memang sudah ditakdirkan bersama, itu akan terjadi di waktu yang tepat-dan kalau tidak, dia akan menerimanya. Aku sangat menghormati keputusan dan batasannya. Tapi sudut pandangku sedikit berbeda. Aku nggak menyarankan sering ngobrol atau ikatan emosional. Aku cuma berpikir, mungkin sekadar mengecek keadaan sekali setiap beberapa bulan, dengan niat yang tulus dan dalam batasan Islami, bisa jadi bagian dari mengambil sebab (asbab) sambil bertawakal kepada Allah. Sepemahamanku, tawakal bukan berarti nol usaha. Kayak mengikat unta lalu bertawakal kepada Allah, aku merasa menjaga kontak minimal dan saling menghormati dengan pikiran menuju pernikahan bisa jadi bentuk usaha. Jadi aku penasaran: dari sudut pandang Islam, apakah pemahamanku salah? Haruskah kontak sesekali dan bertujuan antara dua orang yang serius saling menganggap sebagai pasangan dihindari sama sekali, atau ada perbedaan pendapat ulama dan batasan pribadi soal ini? Aku benar-benar berusaha belajar. Aku nggak berniat membuktikan siapa pun salah, dan aku menghormati pilihannya bagaimanapun. Aku cuma ingin tahu apakah pemikiranku keliru atau kedua pendekatan bisa ada dalam Islam. Jazakum Allahu khayran.