saudari
Diterjemahkan otomatis

Berpegang pada Akar Budayaku sebagai Mualaf

Sebagai mualaf berlatar belakang Trinidad, dengan teman-teman dekat yang juga mualaf dari Meksiko, Bolivia, dan Karibia, aku sering merenung tentang cara merangkul sisi indah budaya kami sambil tetap setia pada Islam. Aku tahu Islam datang untuk membimbing dan menyucikan budaya, bukan menghapusnya, dan aku sepenuhnya menerima hikmah serta perintah Allah. Tapi aku selalu merasa Islam harus didahulukan di atas budaya-aku sudah lihat sendiri bagaimana mendahulukan budaya di atas deen bisa menimbulkan kebingungan dan masalah dalam keluarga serta hubungan. Bismillah, satu tantangannya adalah banyak ceramah tentang budaya dan Islam sepertinya fokus pada budaya Pakistan atau Timur Tengah. Dengan segala hormat, setiap budaya punya keindahan dan ujiannya sendiri, tapi kadang aku perhatikan ada ekspektasi dan tradisi budaya yang diperlakukan seperti bagian dari Islam. Dalam beberapa kasus, aku menyaksikan budaya didahulukan di atas apa yang diperintahkan Allah, dan itu justru memperkuat keyakinanku bahwa Islam harus selalu diutamakan, tak peduli budayanya Karibia, Pakistan, Arab, atau apa pun. Karena itu, aku sedang mencoba memahami bagaimana menjaga identitas Karibiaku sambil tetap teguh pada deen. Hal-hal seperti musik, tarian, perayaan, pakaian, nama, dan kumpul keluarga adalah bagian besar dari jati diri kami, dan aku bertanya-tanya bagaimana membedakan mana yang boleh dipertahankan, mana yang perlu disesuaikan, dan mana yang harus ditinggalkan. Misalnya, bolehkah menghadiri acara keluarga yang memutar musik? Bagaimana cara menjaga hubungan dengan budaya dan keluarga tanpa mengorbankan prinsip? Aku tahu Islam untuk semua orang dan semua budaya, dan aku terutama ingin mendengar dari sesama mualaf atau saudara-saudari yang berilmu yang sudah belajar menghormati warisan budaya mereka sambil berusaha menjalankan Islam sebaik mungkin. Setiap nasihat, cerita pribadi, atau sumber referensi akan sangat dihargai. Jazakum Allahu khayran.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Duh, aku benci banget kalau orang nyampur-nyampur budaya sama Islam. Kayak, nggak, tante, maksa aku pakai sari itu bukan fatwa. Pertahankan sisi baik dari akar Trinidadmu - sabarnya, kebersamaannya, logatnya!

saudari
Diterjemahkan otomatis

Musik itu susah, ya. Aku nggak datang kalau acaranya di pusat, tapi kalau cuma mampir sebentar? Masuk, langsung keluar lagi. Keluargaku tahu aku nggak suka jabat tangan atau berdansa, dan akhirnya mereka menghormati itu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

MasyaAllah, kamu ungkapkan ini dengan indah banget. Aku juga orang Karibia, dan ini tuh keseimbangan yang harus dijaga setiap hari. Aku tetap pegang makanannya, kehangatannya, cara berceritanya, tapi dancehall-nya sudah kutinggalkan. Deen-mu dulu, selalu-budaya itu adanya di hati, bukan di yang haram.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Suka banget ini. Aku mualaf dengan akar Karibia dan yang bantu aku adalah belajar sirah-Nabi (saw) merangkul keberagaman tanpa kompromi soal tauhid. Pertahankan humormu, kecintaanmu pada jeruk nipis, cuma niatnya aja yang diluruskan.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis, postinganmu bikin aku nangis. Aku orang Dominika dan pindah agama itu bayarannya mahal banget. Tapi aku tetap simpen resep-resep nenekku, bahasa Spanyolku, dan cara kami pelukan erat. Allah tahu isi hatimu, terus aja belajar dan bertaubat.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Salaam kak, aku bener-bener ngerasain ini! Sebagai mualaf dari Meksiko, aku juga berjuang dengan hal yang sama. Satu hal yang ngebantu: aku bawa masakan halal ke acara keluarga dan menyingkir diam-diam pas musik mulai nyala. Semoga Allah mudahkan jalan kita ya.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Duh, perjuangannya beneran nyata! Aku ini mualaf dari Bolivia, dan acara kumpul keluarga tuh isinya musik semua. Aku datang, salam-salaman, makan, terus cabut. Lebih baik jaga hubungan daripada ngucilin diri sepenuhnya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar