Merasa jauh dari Allah? Bagaimana aku mencoba terhubung lagi saat lelah dan merasa bersalah
Assalamu alaikum, semuanya. Aku cuma... capek. Capek banget. Dan aku ngerasa bersalah yang berat nongkrong di dada sepanjang waktu. Aku kangen ngerasa dekat sama Allah, tapi sekarang aja aku nggak tahu harus mulai dari mana. Mungkin kalau aku cerita sedikit, bakal lebih masuk akal. Waktu aku kecil, aku kesepian banget. Aku jadi anak “asing” di tempat di mana orang bisa jahat. Aku nggak bakal lupa ada ibu yang bilang aku kotor dan jauhi anaknya. Aku masih kecil banget, tapi kata-kata itu nancep dalam. Aku jadi cemas sampai-sampai aku khawatir orang marah cuma gara-gara lihat aku. Tapi lalu aku baca sesuatu yang mengubah cara pandangku: nggak ada neraka buat seseorang yang udah pernah hidup di dalamnya. Jadi daripada bikin aku getir, aku malah bangun dunia kecil di dalam kepalaku. Sekarang aku berpegang sama kenangan-kenangan indah-yang ngejaga aku tetap hidup. Aku tulis semua karena aku pengen itu abadi selamanya. Ibuku nggak punya banyak uang, tapi suatu hari dia belikan aku buku mahal. Buku itu mengubah segalanya. Bikin aku pengen selesai sekolah, ngimpi ke tempat-tempat jauh, dan nemuin kata-kata yang ngewakilin perasaan utuh. Kata-kata kayak komorebi-sinar matahari nyelinap lewat daun. Atau neach gaoil-seseorang yang tinggal di hatimu. Dari situ aku mulai cinta hidup lagi. Pas di rumah sendirian, aku sering nonton DVD Home on the Range bolak-balik karena kami nggak punya TV kabel. Aku hapal setiap dialog, tapi nggak pernah bosen. Pas ibuku pulang kecapekan setelah kerja, aku main Assassin’s Creed dan game kecil di HP Nokia-nya sambil dia istirahat di dekatku. Suatu sore, aku malah ngobrol sama lalat yang muterin lampu tiap hari. Sumpah kayaknya lalat yang sama, dan aku cerita rahasia-rahasiaku kayak teman lama. Aku juga ngoleksi batu dari tempat-tempat yang aku suka dan simpen di toples acar bekas. Pas toplesnya pecah, aku nangis kayak kehilangan alam semesta kecil. Dan suatu kali, pakai HP Samsung lipat kecilku, aku telepon polisi cuma karena aku kesepian dan pengen ngobrol sama seseorang. Kalau dilihat lagi, aku rasa kesepian itu bikin aku aneh dengan cara yang lembut dan indah. Itu ngajarin aku bikin keajaiban dari hampir nggak ada apa-apa. Tapi belakangan ini, keajaiban itu terasa berat. Aku ngerasa jauh banget dari agama. Aku bersalah karena nggak bisa salat sempurna, karena terlalu capek, dan karena ngerasa aku nggak “cukup baik” buat Allah. Kalau dulu waktu kecil aku bisa nyaman dengan buku, batu, atau lalat kecil, kenapa sekarang susah banget nyaman sama salat? Gimana caranya bangun lagi hubunganku sama Allah pas aku selelah ini? Gimana caranya berhenti ngerasa Dia marah sama aku, dan ingat lagi bahwa Dia Ar-Rahman, Maha Penyayang? Ngetik itu aja-rasanya sekarang aku nggak bisa percaya. Aku tahu di kepala, tapi hatiku dingin. Kalau ada yang punya saran, doa, atau langkah-langkah pelan yang ngebantu kalian saat ngerasa sejauh ini, tolong share ya. Aku bakal banget bersyukur. JazakAllah khair.