saudari
Diterjemahkan otomatis

Mengatasi Luka dari Orang Tua

Assalamu alaikum buat siapa pun yang menyempatkan waktu membaca ini. Aku baru pertama kali berbagi pikiran seperti ini, jadi mohon bersabar ya. Setiap saran akan sangat berarti buatku saat mencoba memahami segalanya. Aku benar-benar mencintai orang tuaku, tapi sejak aku berusia sekitar 12 tahun dan mulai mengerti banyak hal, aku sudah berpikir untuk menjauh begitu aku bisa mandiri secara finansial. Biar kuberi sedikit latar belakang, sepanjang yang bisa kuingat, ibuku sangat kasar padaku. Bukan cuma kata-kata kasar-dia pernah bilang hal seperti "Andai aku nggak melahirkanmu"-tapi juga secara fisik. Aku ingat waktu umur 4 tahun, aku mengangkat teleponnya dan ternyata itu bosnya, lalu dia membuat mataku lebam. Di lain waktu, waktu umur 6 tahun, aku berantem kecil sama adik perempuanku yang umur 2 tahun gara-gara mainan dan dia mulai nangis. Ibuku membantingku ke lantai begitu keras sampai lenganku retak dari pergelangan sampai siku. Selama semua ini, ayahku sering pergi bersama teman-temannya atau bekerja, atau cuma nggak turun tangan. Beberapa tahun terakhir, aku jarang dengar kabar darinya karena dia pindah ke benua lain untuk kerja dan nggak jadi bagian tetap dalam hidupku sejak aku umur 11 tahun. Meskipun sakit secara mental, emosional, dan fisik, orang tuaku bukanlah orang yang sepenuhnya jahat. Mereka nggak merokok atau minum, mereka shalat lima waktu di masjid kalau bisa, dan mereka baca Al-Qur'an setiap hari atau setidaknya memutarnya di rumah. Mereka memastikan kami nggak pernah kelaparan, kami punya baju bagus, dan pendidikan terbaik yang bisa mereka berikan buatku dan saudara-saudaraku. Tapi kekerasannya nggak berhenti, bahkan sekarang aku sudah dewasa. Karena beberapa keadaan, aku tinggal terpisah dari ibuku selama setahun, dan itu satu-satunya waktu aku nggak punya luka memar baru selama lebih dari dua minggu. Itu pertama kalinya aku nggak takut bangun dari tempat tidur. Aku bisa tidur jam 11 malam karena aku nggak perlu begadang sampai jam 5 pagi cuma buat punya waktu sendiri. Aku bisa merasa bahagia tanpa rasa bersalah yang menghancurkan, tanpa terus-menerus merasa jadi beban. Aku bisa terhubung lagi dengan imanku karena aku bisa melihat keindahan Islam tanpa tindakan orang tuaku mengaburkannya-mereka tampak seperti Muslim sempurna di mata orang lain, tapi bagiku mereka penuh dengan kekejaman. Sekarang aku kembali tinggal bersama ibuku, dan aku terjerumus lagi ke kebiasaan lama dan pikiran gelap. Rasanya aku masih seperti anak umur 4 tahun dengan mata lebam, dan aku nggak tahu harus berbuat apa. Seperti yang kubilang, aku mencintai orang tuaku, tapi aku lebih mencintai Allah. Aku tahu Islam melarang memutuskan hubungan dengan orang tua, tapi apa hukumnya dalam situasi seperti ini? Aku jarang dengar ini dibahas karena sangat tabu di banyak budaya Muslim. Dan aku jelas nggak mau membicarakan ini dengan non-Muslim dan berisiko menambah stereotip tentang kekerasan yang diterima dalam Islam. Jazakum Allahu khayran.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah melindungimu, habibti. Ceritamu mirip banget sama banyak orang. Islam tuh melarang penindasan, bahkan dari orang tua sekalipun. Menjaga jarak itu beda sama ninggalin begitu aja. Kamu berhak dapetin ketenangan.

saudari
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, maaf banget ya. Setahun berpisah itu udah nunjukin ke kamu gimana rasanya damai. Percaya deh sama perasaan itu-nggak egois kok pengen aman dan sehat mental.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis, ini bikin hatiku remuk. Kamu nggak sendirian. Semoga Allah meringankan penderitanmu dan menuntunmu ke tempat yang aman. Cintamu pada Allah jelas banget-Dia lihat perjuanganmu.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Yang Kamu gambarkan itu sudah termasuk kekerasan, bukan cuma didikan keras. Tolong cari bantuan ya-mungkin dari ustadzah yang terpercaya atau konselor. Memutus hubungan bukan satu-satunya jalan; batasan itu tetap ada, kok.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kekerasan fisik nggak bisa dibenarkan, se-agamis apa pun kelihatannya. Utamakan keselamatanmu. Para ulama bilang, melindungi diri dari bahaya itu yang utama. Tetap kuat, ya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar