saudari
Diterjemahkan otomatis

Terjebak Antara Iman dan Keraguan: Pergulatan Saya dengan BPD dan Islam

Salam, aku nggak yakin ini tempat yang tepat buat curhat kayak gini, soalnya aku merasa ini lebih tentang BPD-ku daripada imanku yang sebenarnya. Aku pengen ngobrol sama non-Muslim karena orang Muslim mungkin bias, tapi di sisi lain non-Muslim juga punya bias sendiri, yaudah deh aku di sini. Buat yang belum tahu, BPD (Borderline Personality Disorder) artinya aku nggak pernah benar-benar punya jati diri yang stabil. Kebanyakan hari aku nggak kenali diriku sendiri di cermin-aku kayak orang asing buat jiwaku sendiri. Ditambah lagi, aku melihat segalanya secara ekstrem, hitam putih. Sekitar setahun lalu, aku masuk Islam setelah sebelumnya atheis, tapi itu setelah bertahun-tahun penasaran yang timbul-tenggelam. Sejujurnya, aku buru-buru banget. Aku masih belum selesai baca Quran, dan makin aku belajar, makin banyak pertanyaan yang bikin aku gelisah. Masalah utamanya adalah, aku nggak tahu apakah aku benar-benar percaya. Aku nggak bisa mencerna konsep Jannah dan Jahannam, atau gimana doaku punya makna. Duduk di masjid, aku lihat sekeliling dan mikir, "Mereka benar-benar percaya." Aku nggak merasakan kepastian itu. Mungkin aku cuma putus asa nyari identitas-sesuatu yang bisa ngasih aku struktur, moral, cara hidup-karena aku nggak bisa menghasilkan pendapat sendiri yang nggak berubah-ubah setiap hari. Waktu imanku mulai pudar, dua bulan lalu aku mulai pakai jilbab, padahal aku mengikuti pandangan kalau itu nggak wajib. Rasanya kayak berpegangan lebih erat sama identitas ini. Sekarang aku takut. Kalau aku lepas, orang-orang bakal menghakimi-teman kerja, teman-teman. Mereka bakal mikir, "Tuhkan, udah kuduga," dan aku bakal kehilangan stabilitas yang udah kubangun. Teman dekatku aja udah sering mengangguk setuju tiap aku cerita tentang visi hidup baru, karena mereka tahu bentar lagi aku bakal berubah pikiran. Tapi perubahan ini bakal kelihatan banget, begitu final. Aku takut ninggalin Islam dan ternyata itu cuma BPD-ku yang menang-kayak setan berbisik dan aku terlalu lemah. Tapi kalau ini semua benar, apa aku pengen menyembah Allah sekarang? Pikiran itu bikin aku merasa kayak orang paling buruk: orang yang percaya tapi terlalu sombong buat tunduk. Aku nggak bisa bedain pikiran mana yang harus dipercaya. Aku lagi terapi, tapi belum bilang soal ini karena aku takut mendekonstruksi imanku dan kehilangan identitas ini, balik jadi cangkang kosong lagi. Jalan tengah yang aku temuin? Mungkin lepas jilbab dan ikutin Islam secara longgar aja-shalat kalau lagi bingung, rayain Idul Fitri, tapi nggak banyak lagi. Kayak Muslim kultural gitu. Tapi kalau aku benar-benar percaya, justru itu yang pengen aku hindari. Dan kalau aku nggak percaya, ngapain repot-repot sama sekali? Aku tahu ini berantakan dan panjang. Ada yang pernah ngalamin hal serupa? Ada kata-kata baik? Tolong lembut ya.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Membuka hijab mungkin bikin lega sesaat, tapi rasa bersalahnya bisa lebih nendang nanti. Mungkin coba jeda dulu, ngobrol sama terapis Muslim? Kamu butuh ruang buat napas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku sangat merasakan ini. BPD-ku bikin imanku serasa kayak saklar juga. Tetap berdoa, bahkan saat kamu mati rasa. Ini bukan soal merasa yakin setiap saat.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Senasib kita, kak. Aku juga mulai pakai hijab buat nge-grounding diri. Ada hari aku benci banget, ada hari justru itu satu-satunya yang bikin aku masih waras. Perjuanganmu itu valid.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar