Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum - Berjuang dengan keraguan dan rasa bersalah

Assalamu alaikum. Saya hampir beranjak ke usia 20-an, lahir dari orang tua Muslim Suriah tetapi dibesarkan di Eropa di mana sebagian besar orang di sekitar saya cukup sekuler. Ketika kecil, saya puasa dan kadang-kadang berdoa, bukan karena ada yang memaksa tetapi karena itu yang dilakukan keluarga saya dan saya percaya bersama mereka. Selama beberapa tahun terakhir, saya menjauh dari Islam. Saya telah menggunakan alkohol, merokok, dan melakukan hal-hal lain yang sekarang saya anggap sebagai dosa besar. Saya juga didiagnosis dengan depresi dan OCD, yang membuat segalanya lebih rumit, tapi saya tahu saya tetap bertanggung jawab atas pilihan saya. Saya merasa banyak rasa bersalah, tetapi saya tidak yakin apa yang sebenarnya benar. Saya terus mencoba membaca Al-Qur'an dan mencari jawaban secara online, tetapi tidak ada yang terasa meyakinkan. Sebagian besar saya mencari bukti keberadaan Tuhan dan saya tidak tahu mengapa rasa bersalah itu tetap ada. Saya minta saran dan dukungan yang baik. Bagaimana saya bisa mengatasi keraguan ini tanpa terlalu keras pada diri sendiri? Saran tentang tempat yang bisa dikunjungi untuk penjelasan yang tulus, bagaimana menyeimbangkan kesehatan mental dengan iman, atau langkah-langkah yang bisa diambil jika saya ingin kembali beribadah akan sangat dihargai. JazakAllah khair untuk kebaikan Anda.

+345

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

77 komentar
Diterjemahkan otomatis

Hei, aku juga di usia 20-an dan dibesarkan di luar negeri. OCD bikin segalanya terasa lebih keras buatku. Coba deh cek sumber daya tentang Islam dan kesehatan mental (cari terapis Muslim lokal atau grup online). Bukti adanya Tuhan bisa jadi perjalanan pribadi yang lambat; izinkan rasa ingin tahumu berkembang, jangan tertekan.

+8
Diterjemahkan otomatis

Wa alaikum assalam saudariku - saya relate. Ambil langkah kecil, bukan yang sempurna. Bicaralah dengan imam yang baik atau seorang konselor yang memahami kesehatan mental dan iman. Rutinitas yang lembut (doa singkat, sedikit Al-Qur'an) membantu saya saat saya ragu. Bersabarlah dengan dirimu sendiri, Allah melihat perjuangan. Kamu tidak sendirian.

+5
Diterjemahkan otomatis

Sebagai sesama wanita yang pernah berjuang, saya mau bilang: rasa bersalah itu bisa berguna tapi juga toksik. Pisahkan penyesalan yang memotivasi perubahan dari rasa malu yang membuat kita terhenti. Temukan saudari yang pengertian atau grup untuk diajak bicara - komunitas membantu saya untuk terus melangkah perlahan.

+14
Diterjemahkan otomatis

Assalamu alaikum - mendengar kejujuranmu itu sangat kuat. Kalau kamu mau bukti, coba deh dengar pembicara apologetika yang berpengalaman, tapi padukan itu dengan praktik spiritual yang menenangkanmu (dhikr, pernapasan, jalan-jalan di alam). Seimbangkan perawatan kesehatan mental dengan pencarian spiritual.

+11
Diterjemahkan otomatis

Saya juga mengalami hal yang sama dan perlahan-lahan kembali. Jangan berharap ada kembang api - tindakan kecil yang konsisten itu yang penting: berwudu, membaca surah pendek, atau doa pagi. Saat keraguan datang, tuliskan dan cari jawabannya sedikit demi sedikit. Dan tolong, bersikaplah lembut pada dirimu sendiri.

+10
Diterjemahkan otomatis

Kamu berani sekali buat bertanya. Mungkin baca tafsir pendek atau dengerin kuliah lembut dari para ulama yang empatik (cari yang ngomongin tentang keraguan). Juga, baiklah pada pikiranmu - obat atau terapi itu bukan hal yang memalukan, mereka membantumu untuk bisa hadir dalam imankanmu.

+8
Diterjemahkan otomatis

Mengirimkan cinta. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri atas pilihan masa lalu - fokuslah pada apa yang akan kamu lakukan besok. Terapis + mentor iman yang bisa diandalkan membantu saya memisahkan rasa bersalah dari tanggung jawab yang sebenarnya. Mulailah dengan satu kebiasaan pribadi: satu atau dua doa, dan lihat bagaimana rasanya.

+13
Menurut aturan platform, komentar hanya tersedia untuk pengguna dengan gender yang sama dengan penulis postingan.

Masuk untuk meninggalkan komentar