Diterjemahkan otomatis

Kesulitan menyambung dengan iman, bingung harus ke mana

Assalamualaikum semua. Semoga kalian menjalani Ramadan yang penuh berkah. Aku sendiri kesulitan merangkai kata-katanya, jadi aku ngomong aja sambil minta tolong ditulisin. Sebelum Ramadan dimulai, aku udah lagi menghadapi masa-masa terberat dalam hidup. Aku terus bilang ke diri sendiri, nanti pas Ramadan tiba, semuanya akan berubah. Aku akan kembali rajin ibadah seperti dulu. Aku akan merasakan lagi kedekatan itu sama Allah. Aku akan merasa penuh harap dan tenang lagi. Setiap tahun, aku selalu komunikasi sama Allah terus-terusan. Aku minta semua yang aku butuh tanpa ragu. Bahkan aku bikin list. Aku minta tiap salat, tiap hari. Aku ngobrol sama-Nya kayak lagi ngobrol langsung aja. Aku selalu percaya aku bisa cerita apa pun ke Dia. Tapi tahun ini... ada sesuatu yang terasa berat. Aku masih salat lima waktu. Aku masih muncul. Tapi pas giliran mau bikin doa setelahnya, pikiran ku langsung kosong. Aku merasa kehilangan kata-kata. Aku nggak bisa memaksakan diri untuk minta apa-apa lagi. Aku merasa sangat tersesat dan tanpa harap sampai-sampai ngomong aja rasanya nggak ada gunanya. Aku tahu mungkin orang-orang bakal bilang-"Jangan putus harapan. Allah selalu mendengar." Aku tahu itu semua. Tapi pas kamu udah berkali-kali merasa kecewa, sesuatu dalam diri kamu cuma nutup diri. Aku sampe di titik di mana aku bahkan nggak mau "buang-buang" energi buat minta sesuatu yang baik, karena aku udah terlalu lelah rasanya sakit hati. Dan aku tahu kedengerannya salah. Aku tahu memang salah. Tapi bahkan pas aku ingetin diri sendiri soal itu, aku nggak bisa mengubah yang aku rasakan. Ada beberapa hal yang bener-bener memberatkan aku sekarang. Aku harus bisa masuk universitas. Aku harus berprestasi akademis karena aku udah kehilangan banyak waktu. Kesehatan mental aku udah parah banget. Aku udah ngerasa kesepian banget tiga tahun terakhir. Aku nggak punya siapa-siapa buat ngabisin waktu bersama. Mungkin buat sebagian orang nggak kelihatan signifikan, tapi kesepian kayak gitu perlahan-lahan menggerogoti kamu. Bikin kamu merasa nggak layak dikasih sayang. Bikin kamu overthinking semuanya. Duduk aja di dada sepanjang hari. Aku udah terus memohon sama Allah-kalo nggak buat ngilangin tantangan-tantangan ini sepenuhnya, setidaknya bantu aku buat ambil langkah-langkah kecil ke depan. Sedikit kemajuan aja. Sesuatu aja. Tapi aku merasa terjebak. Dan beban semua ini kadang terasa terlalu berat buat ditanggung. Aku nggak sepenuhnya yakin apa yang aku harapin dengan berbagi ini. Mungkin aku cuma butuh ngelepasinnya dari hati aja.

+55

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

55 komentar
Diterjemahkan otomatis

Ini banget ya. Kadang cuma hadir buat salat aja udah usaha yang paling besar. Allah lihat perjuanganmu kok.

+2
Diterjemahkan otomatis

Kakak, aku merasakan setiap kata dari tulisan ini. Kekosongan doa, beban yang begitu terasa... kakak tidak sendiri. Semoga Allah meringankan hatimu dan menganugerahkan ketenangan langkah demi langkah.

+6
Diterjemahkan otomatis

Aku juga pernah merasakan itu. Perasaan di mana kita serasa kehilangan kata-kata dalam doa. Tetaplah bertahan, meski hanya dengan seutas benang. Kejujuranmu sungguh berani.

+2
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memudahkan urusanmu. Bagian tentang kesepian itu benar-benar menyentuh. Aku berdoa agar kamu segera menemukan orang-orang yang tepat untukmu.

+1
Diterjemahkan otomatis

Hatiku sakit membaca ini karena aku juga pernah merasakan hal yang persis sama. Tetaplah hadir saja. Itu sendiri sudah merupakan bentuk ibadah saat hatimu sesedih ini.

0
Menurut aturan platform, komentar hanya tersedia untuk pengguna dengan gender yang sama dengan penulis postingan.

Masuk untuk meninggalkan komentar