Kenapa sekarang saya mengerti kenapa beberapa orang gay meninggalkan Islam.
As-salamu alaykum. Gue cuma pengen ngeluarin unek-unek ini - bukan nanya-nanya sih, lebih ke curhat. Gue dibesarkan sebagai Muslim, nggak terlalu ketat sih tapi percaya yang biasa-biasa aja. Sebenarnya gue mundur dari Islam sekitar sepuluh tahun yang lalu pas remaja karena keraguan yang bukan soal ketertarikan sama laki-laki. Belakangan ini gue kembali dan mulai beribadah lagi. Selama bertahun-tahun, gue bertanya-tanya kenapa beberapa Muslim gay bisa ninggalin iman mereka karena orientasi seksual. Gue nggak paham - perasaan itu bukan dosa, yang dosa itu tindakan. Tapi sekarang gue mulai ngerti kenapa. Kita mengandalkan Qur’an dan Sunnah, dan para ulama buat ngejelasin. Masalahnya, kebanyakan orang nggak bisa langsung akses ilmu yang dalam, jadi mereka bergantung pada guru dan pendeta buat ngasih tau apa kata Islam. Apa yang dikatakan guru-guru itu sering kali bikin orang merasa seperti suara Allah. Ketika ulama atau pendeta ngomong tentang homoseksualitas dengan cara yang keras dan mengutuk, kadang itu nggak terasa seperti diskusi tentang topik abstrak. Itu kayak nemplok ke diri kita secara pribadi. Bahkan kalau lo coba pisahin diri dari label LGBT yang lebih luas, cerita-cerita dan contoh yang mereka kasih bisa bikin pengalaman lo merasa salah dipahami dan ditolak. Omongan kayak gitu bisa bikin lo merasa seolah Tuhan benci sama lo, bukan cuma orang-orang tertentu. Merasa ditolak oleh Tuhan tuh berat banget. Lo bisa udah berusaha sebaik mungkin, membuat pengorbanan, berdoa, dan tetap aja rasanya kayak lo nggak cukup. Kalau lo lebih taat, beban itu jadi lebih berat karena lo peduli banget tentang apa kata Allah. Denger kutukan terus-menerus bikin cara lo bayangin Allah melihat lo jadi beda. Di sisi lain, ada orang-orang yang menawarkan cinta dan penerimaan tanpa syarat. Itu terasa amazing - kayak tempat yang bener-bener paham. Dan Shaytan memanfaatkan celah itu. Dia bisikin bahwa kalo Allah kasih lo perasaan ini tapi mengutuk lo karenanya, berarti Allah nggak adil. Emosi bisa mengaburkan akal, dan semakin diterima orang lain dan ditolak oleh komunitas, semakin bisikan itu jadi masuk akal. Di saat itulah banyak yang akhirnya pergi. Kadang-kadang reaksi Muslim juga bikin keadaan lebih buruk: “Lo pergi cuma buat berbuat dosa,” atau “Lo nggak pernah jadi Muslim.” Kata-kata kayak gitu malah jauh lebih menjauhkan orang dan mengonfirmasi keraguan. Yang sebenarnya terjadi itu gambaran kita tentang Allah jadi terdistorsi karena cara orang ngomong tentang kita. Kenyataannya, Allah itu Maha Penyayang dan Dia senang sama orang yang merendahkan pandangan dan menghindari perbuatan dosa. Tapi susah buat pegang kebenaran itu ketika orang yang ngomong dengan otoritas agama bikin lo merasa terkutuk. Lebih sulit lagi kalo lo dibesarkan dengan taat dan nggak pernah banyak bertanya sebelumnya - saat lo mulai meragukan, semuanya bisa berasa kayak fondasi lo goyang. Kita juga beruntung ada ulama dan pembicara Muslim yang dihormati yang memilih buat dengerin, menunjukkan kasih sayang, dan mencoba mengerti perjuangan kita. Ketika suara yang dihormati itu menunjukkan perhatian, itu narik kita kembali ke Islam karena melawan perasaan ditolak secara total. Itulah kenapa penting ada orang di dalam komunitas yang memperluas pengertian dan belaskasihan. Itu bikin perbedaan nyata dan bantu Muslim gay merasa mereka punya tempat di ummah. Anyway, maaf banget udah curhat panjang lebar. Emosi kadang-kadang bikin logika berantakan - itu saja sih. Buat siapa aja yang ada di situasi ini: lo punya dua ujian - jangan bertindak berdasarkan keinginan itu, dan ingat ada perbedaan antara apa yang Allah pikirkan tentang lo dan apa yang beberapa Muslim pikirkan tentang lo. Semoga Allah membimbing kita dan memberi kemudahan.