Diterjemahkan otomatis

Sebuah Percakapan dengan Ayah Tentang Iman dan Keseimbangan Hidup

Assalamu alaikum, saudara-saudaraku yang terhormat. Saya ingin berbagi sesuatu yang ada di hati saya. Ayah saya, yang seorang Muslim, datang ke Eropa saat masih kecil. Dulu waktu muda, dia cukup rajin dalam shalat dan ibadahnya. Seiring waktu, dia jadi lebih fokus pada urusan duniawi. Dia mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sejalan dengan agama kita, dan tindakannya kadang menyakiti keluarga kami. Namun, bagi kebanyakan orang, dia dikenal karena kebaikan, kedermawanan, dan sifatnya yang lembut. Dia menafkahi kami dengan baik dan selalu hadir sebagai seorang ayah. Saya ingat dengan hangat dulu shalat bersama dia dan sering mengunjungi masjid waktu saya masih kecil. Walaupun saya yakin hatinya baik, saya tidak setuju dengan semua pilihan atau pandangannya. Dia masih menganggap dirinya seorang yang beriman. Saya pernah melihatnya berdoa dengan tulus untuk anggota keluarga, dan dia punya pengetahuan Islam. Baru-baru ini, kami ngobrol cukup dalam. Saya bicara tentang pentingnya shalat, menjaga identitas dan tradisi Islam, serta keberkahan Ramadan, Haji, dan ibadah. Saya juga menyebutkan harapan saya suatu hari nanti, insya'Allah, tinggal di tempat di mana saya bisa beribadah lebih leluasa. Tanggapannya bikin saya kaget. Dia menasihati, 'Jangan biarkan agama menguasai setiap aspek. Kamu juga harus menjalani hidup dan jangan terus-terusan disibukkan oleh pikiran keagamaan.' Dia menambahkan, 'Kamu akan temukan orang-orang yang memenuhi ibadah lahiriah tapi karakternya buruk, dan juga yang tidak shalat sama sekali tapi lebih baik sikapnya dibanding sebagian Muslim.' Saya akui poinnya tapi jelaskan bahwa sebagai Muslim, kita punya kewajiban yang jelas. Alasan dasar kita ada adalah untuk menyembah Allah, seperti disebut dalam Surah Adz-Dzariyat. Awalnya, saya tidak sepenuhnya paham bobot kata-katanya. Merenung sekarang, saya merasa agak terganggu. Kok bisa ya seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan agama punya pandangan seperti itu? Dia juga bilang bahwa menerapkan Al-Qur'an di dunia sekarang ini beda dengan cara di zaman Nabi (ﷺ). Saya tidak percaya dia tanpa harapan. Waktu saya dorong dengan lembut agar dia kembali shalat, dia jawab, 'Insha'Allah, saya akan.' Jadi, saya rasa masih ada secercah iman. Meski begitu, pandangan keseluruhannya tentang agama bikin saya benar-benar khawatir. Saya akan sangat menghargai pemikiran dan saran kalian tentang cara menghadapi situasi ini dengan bijak dan sabar.

+58

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Ini memang berat. Dia terdengar seperti pria yang baik. Mungkin pengalaman hidupnya membentuk pandangannya. Kesabaran adalah kuncinya.

0
Diterjemahkan otomatis

Ayahku terkadang juga bilang hal yang serupa. Membingungkan sih. Aku coba jadi contoh yang lebih baik aja buat diriku sendiri.

0
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memberinya petunjuk dan menganugerahimu kesabaran. 'Insha'Allah'-nya itu pertanda baik. Jangan putus asa.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar