Apakah aku salah mengatakan ini kepada ayahku?
Aku nggak yakin harus mulai dari mana. Masa kecilku benar-benar berat, penuh pertengkaran terus-menerus dan semacamnya, terutama gara-gara ayahku. Sejak kecil, aku nggak pernah merasa aman di dekatnya. Jujur aja, aku rasa nggak ada perempuan yang kenal dia pernah merasa aman. Ada kalanya dia berlaku nggak pantas padaku-orang yang seharusnya melindungiku. Suatu kali, waktu aku sekitar 13 atau 14 tahun, aku terbangun malam-malam dan menemukan dia cuma duduk di kasurku, menatapku. Waktu kutanya lagi ngapain, dia bilang lagi nyari sepatunya. Lain waktu, aku terbangun dengan dia menggenggam tanganku. Ada satu kejadian lain yang nggak sanggup kuceritain, tapi itu juga terjadi malam-malam, dan setelahnya aku pergi ke kakak laki-lakiku dan bilang aku lihat syaitan dalam tidur-aku bilang itu pas di depan ayahku. Setelah itu, aku langsung bilang terang-terangan sama dia, kalau dia pernah coba-coba lagi, aku bakal lapor polisi. Sejak itu dia nggak berbuat apa-apa lagi. Sekarang, hampir sepuluh tahun kemudian, aku selalu jaga jarak. Kadang aku mikir mungkin dia udah berubah, dan kami bahkan sesekali ngobrol biasa, tapi ya mungkin sebagian orang emang nggak pernah benar-benar berubah. Aku udah berusaha buat nggak kurang ajar, sampai sekarang. Aku udah tunangan dan rencananya mau nikah tahun depan, InsyaAllah. Masalahnya, ayahku nggak mau aku nikah sama orang luar keluarga; dia pengennya aku nikah sama salah satu sepupuku. Tapi aku mau nikah sama lelaki yang udah tunangan denganku ini. Aku sama sekali nggak percaya sama ayahku. Baru-baru ini aku tahu dia bohong, ngaku-ngaku ada yang bilang tunanganku bukan orang baik. Kakak laki-lakiku nanya ke orang itu, dan orangnya bilang dia bahkan nggak kenal tunanganku. Ini bikin aku marah banget, dan dengan emosi aku bilang ke ayahku supaya nggak ikut campur urusanku. Aku bilang kalau kakak perempuanku yang lebih tua-yang ngalamin hal lebih buruk dari aku-dan aku ini yang selama ini jaga nama baik dia, dan kalau kami buka suara soal perbuatannya, nggak akan ada yang hormat lagi sama dia. Aku juga bilang dengan marah, jangan kira aku bakal nikah sama orang pilihanmu; justru aku bakal lari ke arah sebaliknya. Dan aku bilang ke dia jangan panggil aku "nak" karena aku tahu dia nggak akan pernah milih yang baik buatku. Apa aku salah udah bilang semua ini?