Menjadi Muslim yang Sadar Diri Terkadang Terasa Sangat Melelahkan
Assalamu'alaikum semuanya. Semakin besar usaha yang kucurahkan untuk agama ini, semakin aku merasa bahwa begitu banyak dari masa laluku, bahkan masa kini, mungkin telah melenceng. Dan jujur saja, aku nggak tahu gimana orang-orang mengatasi pikiran-pikiran kayak gini tanpa jadi numb atau hidup dalam keadaan cemas terus-terusan. Aku dibesarkan sebagai Muslim oleh ibuku, yang muallaf, dan ayahku yang masuk Islam sejak sangat muda. Tapi, hampir seluruh keluarga besarku adalah Kristen yang taat. Sejak kecil, konsep Tauhid selalu 'klik' bagiku dengan cara yang nggak pernah aku rasakan dari kepercayaan lain. Kepercayaanku pada Allah (swt) selalu kokoh, alhamdulillah. Hal yang sulit adalah, aku lebih banyak berada di sekitar Islam daripada diajari detailnya. Kami pergi shalat Id dan kadang Jumatan, dan aku lihat ayahku baca Quran. Tapi aku nggak tumbuh di rumah yang aturan dan kerangka iman kami benar-benar dijelaskan untukku. Ditambah lagi, aku tumbuh di lingkungan yang mayoritas non-Muslim. Sedikit keluarga Muslim lainnya di sekitar sini cenderung menjaga diri sendiri-bukan dalam arti buruk, tapi berarti aku nggak pernah merasa benar-benar bagian dari lingkaran itu. Banyak hal yang aku lihat dari pemuda Muslim lain juga bikin bingung, kayak nggak jaga batas dengan baik, yang bikin aku merasa semakin terasing meskipun aku sangat merindukan komunitas itu. Jadi, rasa memiliki yang sebenarnya datang dari tempat lain: olahraga, main alat musik, dan merawat anjing keluarga kami. Sebagian besar temanku adalah ikhwan dari komunitas. Mereka nggak kurang ajar sama sekali, malah sangat respect dan protektif, apalagi karena aku sempat jadi korban bullying waktu kecil. Persahabatan ini jadi ruang aman buatku. Nanti, waktu remaja, aku mulai serius main olahraga yang diajari ayahku, yang mayoritas pesertanya ikhwan, dan mereka udah kayak keluarga kedua. Ini penting banget karena hubunganku dengan ayah dulu sangat sulit selama bertahun-tahun karena ada riwayat keluarga yang rumit. Alhamdulillah, sekarang lebih baik, tapi waktu itu aku bergantung pada pelatih dan teman satu tim untuk dukungan persaudaraan yang positif. Olahraga, musik, dan peliharaanku jadi zona nyaman aku. Lalu, seiring bertambahnya umur, aku mulai jauh lebih serius mempraktikkan ajaran Islam. Aku memperbarui komitmenku pada Islam, mulai shalat lima waktu setiap hari, berhijab dengan benar, berhenti dengerin dan main musik, dan lebih ketat jaga jarak sama ikhwan yang bukan mahram. Aku bahkan berhenti main olahraga itu karena ada kontak fisiknya. Di sinilah mulai bikin pusing. Karena setiap kali aku mengoreksi satu aspek hidupku, aku dapet info bahwa hal lain mungkin bermasalah juga. Aku semangat pakai hijab, eh dengar ada hiasan tertentu yang dianggap berlebihan. Aku ubah pakaianku, eh ternyata ada gaya tertentu yang mungkin nggak cocok. Aku nyadar bahkan interaksi santai dengan sepupu laki-laki yang tumbuh bareng aku juga butuh kehati-hatian lebih. Pinjaman mahasiswa yang aku ambil buat kuliah? Bermasalah. Peluang kerja tertentu jadi dipertanyakan, jadi aku tinggalin. Buka usaha? Pendanaan sering ada masalahnya. Bahan makanan sehari-hari-kayak vanilla extract atau pala-perlu dicek dulu. Bahkan kerjaan antar barang biasa aja rasanya risky karena bisa aja kita antar sesuatu yang haram. Seiring waktu, mulai terasa kayak hampir setiap bagian dari kehidupan modern di sini punya jebakan-jebakan spiritual tertentu. Aku bahkan bikin usaha sendiri sebagian supaya lebih mudah shalat tepat waktu, hindari suasana kerja yang nggak nyaman, dan bentuk hidupku berdasarkan imanku. Tapi coba cari nafkah sambil menghindari setiap hal yang subhat itu, jujur aja, terkadang sangat melelahkan. Ini terutama berat karena aku jarang ketemu Muslim lain secara langsung yang kayaknya merenungkan hal-hal ini sedalam ini. Kebanyakan orang yang aku temui entah terlihat santai aja sama semuanya, atau terlalu ketat sampe ngobrol sama mereka malah nambahin kecemasan dan bikin aku merasa sendirian. Akhir-akhir ini, aku makin sering menarik diri. Diam di rumah. Hindari situasi sosial. Overthinking tiap keputusan kecil. Bukan karena aku mendahulukan dunia daripada iman, tapi karena aku takut terus-terusan bikin salah. Ini rasanya nggak sehat. Ini juga nggak kayak kehidupan yang damai yang diinginkan Ar-Rahman dan Al-Wadud buat kita. Aku tahu aturan Islam ada untuk perlindungan dan kebaikan kita, dan aku nggak mempertanyakan hikmah Allah. Menurutku aku cuma lagi berjuang gimana caranya jadi tulus dan sadar diri tanpa jatuh ke rasa takut terus-menerus, kehati-hatian ekstrem, dan isolasi. Ini terasa berat banget buat kita yang nggak punya komunitas Muslim yang kuat, keluarga yang taat, atau pendidikan Islam terstruktur dari kecil. Ada yang pernah ngalamin hal serupa? Gimana caranya kalian nemuin keseimbangan antara praktik ikhlas dengan jaga ketenangan mental dan emosi, apalagi tinggalnya di Barat?