Filosofi di Balik Gurihnya Bubur Suro, Ritual Rasa dan Doa dari Sudut Kabupaten Nganjuk
Bagi masyarakat Jawa, Bubur Suro adalah sajian sakral yang wajib hadir setiap Malam 1 Suro atau 1 Muharram. Hidangan ini bukan sekadar menu, melainkan media refleksi, rasa syukur, dan doa bersama demi keselamatan di tahun yang baru.
Tradisi ini berakar sejak zaman Sultan Agung di Kesultanan Mataram Islam, mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Bubur Suro dimasak dengan santan, daun salam, dan serai, lalu disajikan dengan kuah kaldu ayam kuning serta aneka lauk seperti kacang, telur dadar, perkedel, dan suwiran ayam.
Aspek sosial juga ditekankan: bubur wajib dibagikan kepada tetangga untuk mempererat silaturahmi. Seorang warga Nganjuk, Iza, konsisten menjalankan ritual ini setiap tahun, membuktikan warisan leluhur dan kebersamaan tetap lestari di tengah modernisasi.
https://kabarbaik.co/filosofi-