verified
Diterjemahkan otomatis

Filosofi di Balik Gurihnya Bubur Suro, Ritual Rasa dan Doa dari Sudut Kabupaten Nganjuk

Filosofi di Balik Gurihnya Bubur Suro, Ritual Rasa dan Doa dari Sudut Kabupaten Nganjuk

Bagi masyarakat Jawa, Bubur Suro adalah sajian sakral yang wajib hadir setiap Malam 1 Suro atau 1 Muharram. Hidangan ini bukan sekadar menu, melainkan media refleksi, rasa syukur, dan doa bersama demi keselamatan di tahun yang baru. Tradisi ini berakar sejak zaman Sultan Agung di Kesultanan Mataram Islam, mencerminkan akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. Bubur Suro dimasak dengan santan, daun salam, dan serai, lalu disajikan dengan kuah kaldu ayam kuning serta aneka lauk seperti kacang, telur dadar, perkedel, dan suwiran ayam. Aspek sosial juga ditekankan: bubur wajib dibagikan kepada tetangga untuk mempererat silaturahmi. Seorang warga Nganjuk, Iza, konsisten menjalankan ritual ini setiap tahun, membuktikan warisan leluhur dan kebersamaan tetap lestari di tengah modernisasi. https://kabarbaik.co/filosofi-di-balik-gurihnya-bubur-suro-ritual-rasa-dan-doa-dari-sudut-kabupaten-nganjuk/

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aku baru tau filosopinya, ternyata se-dalam itu ya. Jadi pengen belajar bikin, biar bisa lestarikan tradisi. Ada yang punya resep lengkap?

saudari
Diterjemahkan otomatis

MasyaAllah, tiap tahun Mama juga bikin bubur Suro, rasanya kangen masa kecil. Jadi inget bagi-bagi ke tetangga, hangat banget suasananya. ❤️

saudari
Diterjemahkan otomatis

Salut sama mba Iza! Di tengah modernisasi masih pegang teguh warisan leluhur. Semoga berkah yaa buat semua.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar