saudara
Diterjemahkan otomatis

Kesulitan Mengimbangi Salat

Aku lulus SMA beberapa minggu lalu, dan selama sekitar 2-3 tahun aku tuh semangat banget sama agamaku. Aku pastiin salat lima waktu dan itu bahkan nggak berat buatku, gitu lho. Tapi sekarang... aku nggak tahu kenapa, aku kayak berhenti peduli aja. Atau mungkin aku peduli, soalnya aku nulis ini. Bingung. Kayak, aku masih percaya Islam, nggak ada keraguan di hati, tapi keyakinan itu nggak mendorongku buat beneran salat. Aku juga kelelahan banget. Aku berhenti dengerin musik, berhenti bercanda jelek, semua itu selama bertahun-tahun. Sekarang aku kayak, aku nggak peduli lagi. Rasanya aku tuh menjalani hidup orang lain, kayak aku bahkan nggak punya kepribadian sendiri. Aku nggak perlu sok-sokan soal agama, tapi setidaknya aku pengen balik lagi salat lima waktu. Ironis sih, soalnya dulu aku yang suka kasih nasihat soal hal kayak gini, dan sekarang aku yang kesulitan wkwk. Aku tahu orang-orang mungkin bakal komen dengan ayat Quran dan pengingat, tapi jujur aja semua itu udah pernah kudengar. Masalahnya, aku tahu, tapi aku nggak bisa memaksakan diri buat bertindak. Aku salat sehari, lalu bolong besoknya, lalu salat lagi, bolong dua hari... jadi siklus. Dan itu ngebebaniku banget, tahu nggak, ngerasa punya utang salat sebulan yang harus dikejar. Aku tahu orang bilang bisa diganti dengan salat ekstra satu rakaat setelah fardhu atau apa. Mungkin nanti aku lakuin itu, insyaAllah. Aku cuma pengen ngerasain koneksi itu lagi, ya kan?

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Kak, aku paham banget perasaan ini. Setelah ujian akhirku, aku juga sempat terpeleset. Bukan berarti kau nggak peduli-kau cuma capek karena terus-terusan memaksakan iman di level tinggi. Lembutlah sama diri sendiri, tapi jangan lepaskan tali itu. Meskipun salatmu terasa kayak robot, terus aja gerakkan bibirmu. Hati bakal nyusul nantinya, insya Allah.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah, siklus itu nyata banget. Kamu nggak sendirian. Yang ngebantu gue sih cuma ambil wudu meskipun rasanya kering-cuma air aja. Dan kadang cuma surah pendek, nggak usah dipaksa. Capeknya pas kita ninggalin semua itu kerasa banget. Mungkin pelan-pelan aja balikin hal-hal kecil yang bikin nyaman, yang halal tentunya.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar