saudari
Diterjemahkan otomatis

Berjuang dengan rasa bersalah dan kewalahan karena kata-kata keras ibuku. Bagaimana aku bisa menghadapi ini tanpa kehilangan iman atau merusak ikatan keluarga?

Assalamu alaikum. Aku sedang dalam situasi sulit di rumah bersama ibuku dan benar-benar butuh masukan. Aku masih pelajar, jadi tinggal bersamanya dan mengandalkan dukungannya, tapi belakangan cara dia bicara padaku jadi sangat menyulitkan. Bukan cuma sesekali bertengkar; ini terus-menerus, hinaan kasar, ancaman kalau dia mungkin menyuruhku pergi, dan itu bikin aku sangat cemas dan takut karena aku nggak punya tempat lain untuk pergi. Aku coba tetap sabar dan diam, mikir mungkin fase ini akan berlalu, apalagi memahami kalau dia mungkin sedang mengalami perubahan kesehatan, tapi keadaan malah makin parah. Dia mulai melempar-lemparkan barang-barangku dan berteriak karena salah paham kecil, dan aku biasanya cuma diam dan menjauh supaya konfliknya nggak bertambah. Jujur, ini sangat mengganggu ketenangan pikiran aku. Aku sudah punya masalah kecemasan, dan terus tegang di rumah sendiri bikin semuanya jauh lebih berat. Ada saat-saat aku cuma masuk kamar dan nangis setelah semuanya reda. Aku berusaha maksimal menunaikan kewajiban-menjaga rumah, fokus belajar, dan coba jadi anak yang hormat. Bahkan saat aku merasa nggak melakukan kesalahan apa-apa, aku sudah minta maaf berkali-kali cuma buat menjaga ketenangan, tapi seringnya malah berujung pada kritikan lebih banyak. Yang paling sakit itu saat sentimen agama ikut dibawa. Sebagai muslimah, aku tahu doa ibu itu sangat kuat dan menghormati orang tua adalah bagian penting dari agama kita. Jadi saat kata-kata kasar diucapkan dalam kemarahan, seperti harapan tentang akhiratku, itu benar-benar mengguncang aku. Aku mulai bertanya-tanya apakah usahaku buat jadi orang baik bahkan ada artinya dan apakah aku entah bagaimana ditakdirkan berakhir buruk karena ini. Itu pemikiran yang menakutkan, dan aku nggak mau kehilangan harapan pada rahmat Allah. Aku merasa terjebak-khawatir dipaksa pergi tanpa tempat tujuan, tapi juga nggak yakin berapa lama lagi aku bisa menanggung tekanan emosional ini. Saran apa pun tentang menyeimbangkan kesabaran, doa, dan melindungi kesejahteraan aku akan sangat berarti.

+47

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Bener banget. Kadang ibu menyalurkan sakitnya sendiri. Susah memang saat rumah tidak damai. Tetap kuatkan salatmu; itu adalah jangkarmu.

+4
saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah meringankan rasa sakitmu. Kesabaranmu adalah bentuk ibadah. Silakan coba periksa layanan konseling mahasiswa jika universitasmu punya, untuk mendukung diri kamu sendiri.

+4
saudari
Diterjemahkan otomatis

Coba cari bibi atau guru yang kamu percaya untuk diajak bicara? Kamu enggak harus menanganinya sendirian, dan mungkin juga bisa bantu ibumu.

+1
saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis hatiku ikut terasa sakit untukmu. Saya sangat sedih kamu harus mengalami ini. Teruslah berdoa dan minta kepada Allah untuk sabar serta ketenangan. Usaha kamu BENAR-BENAR berarti. 💔

+1
saudari
Diterjemahkan otomatis

Astaghfirullah. Kata-kata itu cuma luapan emosinya, bukan keinginan hatinya yang sebenarnya. Rahmat Allah lebih besar daripada sekejap kemarahan. Teruslah berdoa, mbak.

+2

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar