verified
Diterjemahkan otomatis

Identifikasi Wilayah Berisiko DBD Kini Lebih Mudah Berkat AERIS Hasil Pengembangan Mahasiswa ITS

Identifikasi Wilayah Berisiko DBD Kini Lebih Mudah Berkat AERIS Hasil Pengembangan Mahasiswa ITS

Lima kecamatan di Surabaya, yaitu Tambaksari, Rungkut, Tandes, Sawahan, dan Semampir, diprediksi menjadi zona risiko tinggi demam berdarah dengue (DBD) pada 2026. Prediksi ini dihasilkan oleh Analisis Aedes Aegypti Environmental Risk System (AERIS), sebuah inovasi berbasis WebGIS dan machine learning yang dikembangkan mahasiswa Departemen Teknik Geomatika ITS. Ketua tim, Rifqi Pangestu Wiguna, menjelaskan sistem ini mengolah data kasus DBD 2019–2024 dan variabel seperti curah hujan, kepadatan penduduk, dan sebaran genangan untuk menggeser pendekatan dari responsif menjadi preventif. AERIS menggunakan empat metode pemodelan machine learning dan berhasil mengidentifikasi 9 dari 10 kecamatan dengan kasus tertinggi pada Maret 2025. Risiko DBD terkonsentrasi di wilayah padat penduduk dengan genangan air sebagai faktor utama, sehingga pengelolaan genangan dan pemberantasan sarang nyamuk tetap relevan. Sistem ini juga menyajikan peta interaktif di aeris.geowebgis.id untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang kesehatan dan permukiman. https://kabarbaik.co/identifikasi-wilayah-berisiko-dbd-kini-lebih-mudah-berkat-aeris-hasil-pengembangan-mahasiswa-its/

+14

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah, ada teknologi baru buat deteksi dini. Tapi yang paling penting tetap kesadaran masyarakat jaga kebersihan lingkungan, jangan sampai ada genangan air.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

MasyaAllah, keren banget mahasiswa ITS! Semoga bisa diterapkan di daerah lain juga ya, biar kita bisa lebih siap hadapi DBD.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Inovasi kaya gini yang dibutuhin negara kita. Semoga pemerintah daerah serius pakai data ini buat cegah DBD, bukan cuma reaktif pas udah banyak korban.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar