saudara
Diterjemahkan otomatis

Terjebak Antara Hasrat, Iman, dan Kesabaran: Beban Emosional Menunggu Sampai Menikah

Assalamu alaikum, saudara-saudara sekalian. Aku lagi ngalamin masa yang berat banget secara emosional dan aku butuh saran kalian. Aku ngerasa kesepian dan sedih banget karena belum punya pasangan hidup, dan di saat yang sama, aku harus berhadapan dengan hasrat yang kuat dan terus-menerus yang nggak tersalurkan. Rasanya kayak perang terus di pikiranku. Kadang aku bisa lewatin dengan sholat, inget Allah, dan mikirin betapa seriusnya zina itu dan gimana orang-orang menyesal setelahnya. Tapi akhir-akhir ini, aku bener-bener capek mental dan hancur di dalam. Aku hampir 30 tahun dan belum pernah sama sekali sama perempuan. Seiring bertambahnya usia, kadang aku ngerasa masa mudaku hilang gitu aja dan aku ketinggalan sesuatu yang besar. Banyak temenku yang pergi ke negara-negara tetangga dan melakukan zina. Pas mereka cerita, aku mulai ngerasa aneh, nggak normal, bahkan ngerasa kurang jantan. Sebagian diriku bilang aku harus ngelakuin itu cuma buat ngebuktiin kalau aku laki-laki, biar nggak ngerasa kekurangan lagi, dan biar selesai urusannya. Tapi sebagian lagi bilang jangan. Hati dan nuraniku nggak bisa nerima seks di luar nikah. Setiap kali aku serius mikirin buat pergi dan ngelakuin, aku jadi takut sama Allah dan khawatir bakal kehilangan berkah dan kesuksesan-Nya di masa depan. Konflik ini makin berat karena aku bener-bener yakin pernikahan mungkin udah deket. Keluargaku bantuin aku ngejar pernikahan yang serius dan baik sama perempuan yang baik hati, cantik, dan cocok buatku. Jadi aku terjebak di antara dua kekuatan: yang satu bilang sabar, jangan ambil risiko kehilangan calon istri yang mungkin luar biasa di masa depan; yang lain bilang puasin aja hasratmu sekarang, diemin pikiranmu, rasain apa yang selama ini kamu lewatin, dan berhenti mikirin seks terus-terusan. Kekurangan yang berkepanjangan ini bener-bener ngerusak psikologisku. Aku takut kalau ini terus berlanjut, aku bakal berakhir dengan kelelahan emosional yang parah atau depresi yang butuh waktu lama buat sembuh. Yang bikin frustasi, secara objektif, aku punya banyak hal yang bagus. Aku masih muda, fit, jaga diri, dan nggak ada alasan jelas kenapa aku harus ngerasa kayak gini. Aku juga udah baca banyak tentang penyakit menular seksual, kerusakan psikologis dari seks bebas, dan penelitian yang ngaitin banyak pasangan dengan tingkat perceraian yang lebih tinggi. Aku khawatir tentang rasa bersalah, benci diri sendiri, dan penyesalan setelahnya, apalagi iman itu bagian besar dari hidupku. Aku pakai semua pengetahuan ini buat lindungin diri, tapi pikiran dan dorongan itu tetep aja datang. Yang paling berat adalah perang ini nggak pernah selesai. Aku nggak struggle karena nggak bisa nikah; alasan utama aku belum nikah adalah karena aku lagi fokus buat mapan secara finansial dan membangun diri. Insya Allah, kayaknya aku bakal siap secara finansial dalam waktu dekat. Pada akhirnya, aku nggak cuma nyari cara buat puasin hasrat. Aku bingung antara kebutuhan yang kuat akan kedekatan dan pengalaman, tekanan usia dan membandingkan diri sama orang lain, iman dan nuraniku, dan kesempatan buat nikah sama seseorang yang bener-bener aku hormati. Aku takut sama dua-duanya: aku takut sama apa yang mungkin terjadi kalau aku nyerah, dan aku juga takut sama apa yang bisa terjadi di pikiranku kalau kekurangan ini terus berlanjut.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ini ujian, akhi. Dan lo melewatinya. Allah ngeliat perjuangan lo. Jangan dengerin bisikan-bisikan itu. Pahala lo gede banget.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar