Kadang kamu lihat sekeliling dan berpikir, 'Kenapa hidupku nggak bisa kayak mereka?'
Assalamu alaikum, ini bukan sesi mengeluh, aku janji. Dan aku sama sekali nggak kecewa sama Allah SWT-aku cuma lagi merasa sangat terbebani saat ini, kayak hampir mau menyerah pada semuanya. Aku lahir sebagai anak keempat saat orangtuaku sebenarnya nggak terlalu menginginkan anak lagi. Rumah tangga kami berantakan, dengan ayah yang nggak hadir dan ibu yang kerja terlalu keras serta punya masalah kesehatan. Di atas itu, aku punya ADHD, dan aku yakin banget aku juga ada di spektrum autisme, yang bikin berhubungan sama orang sejak kecil tuh susah banget. Keluargaku sendiri menjauh dariku. Mereka pindah ke negara lain dan ninggalin aku sama nenek, yang nggak terlalu hangat. Dari umur 13, aku akhirnya tinggal sama kerabat-kerabat yang beda-beda, nggak pernah punya tempat yang bener-bener bisa aku anggap rumahku. Alhamdulillah, setelah 15 tahun yang berat banget, aku nemuin rumahku waktu ketemu suamiku. Kami membangun kehidupan yang indah bersama, tapi untuk kasih masa depan lebih baik buat anak kami, aku harus ninggalin dia di negara lain setelah aku hamil. Sekarang, aku balik lagi tinggal sama kerabat, dan mereka nggak terlalu menerima. Malah makin sakit soalnya aku kira setelah nikah, aku nggak pernah harus khawatir lagi soal punya rumah yang stabil dan penuh kasih, tapi ini aku, hampir kayak umur 13 lagi. Waktu aku liat muslimah-muslimah di sekelilingku, ayah mereka perhatian banget, keluarga mereka selalu ada, pernikahan dan anak-anak datang dengan mudah, dan suami mereka menghargai mereka. Mereka kayak menjalani hidup yang kebalikan banget dari hidupku, dan aku nggak bisa nahan perasaan sedikit kecewa sama perjalananku sendiri. Iya sih, aku punya kesempatan buat amankan masa depan yang baik buat anakku yang mungkin mereka nggak punya, tapi mereka nggak ngadapi pergumulan sehari-hari yang aku alami. Aku terus nanya, 'Kenapa aku nggak bisa punya keluarga yang normal? Kenapa pernikahan aku sama suamiku susah banget sementara buat orang lain keliatan gampang? Kenapa kehamilanku jadi pengalaman yang sepianya, tinggal di tempat yang nggak benar-benar mau menerima aku?' Sebagian dari aku merasa nggak bersyukur, tapi aku nggak bisa berhenti bandingin ceritaku sama semua muslimah yang diberkati di sekelilingku. Ada yang bisa bagi cara buat keluar dari pola pikir ini?