Salaam - Merawat saudara laki-laki saya yang terkena cerebral palsy adalah ujian terberat yang pernah saya hadapi.
Assalamu alaikum. Aku tinggal sendirian sama kakakku yang cerebral palsy, dan udah lama cuma kami berdua. Ibu kami kerja di luar negeri dan menikah lagi beberapa tahun yang lalu. Dulu, waktu aku masih kecil, aku nggak terlalu mikirin itu, tapi sekarang aku lihat dia selalu kayak jauh dari kakakku. Aku curiga kondisinya berpengaruh. Dia kadang-kadang nelpon tapi nggak pernah kasih dukungan finansial. Jujur aja, meskipun dia mencoba sekarang, aku nggak yakin bakal nerima - aku udah terbiasa ngelakuin ini sendiri, dan aku nggak mau bantuan dari seseorang yang menganggap kakakku nggak layak untuk diperhatikan. Merawatnya adalah kehidupan normalku. Aku jarang mengeluh dan hampir nggak pernah minta bantuan. Aku cuma ngelakuin apa yang perlu dilakukan. Tapi hari ini lebih berat dari biasanya. Akhir-akhir ini dia bilang anak-anak di sekolah suka mengejeknya. Itu lebih menyakitkan dari apapun. Aku kesal sama orang-orang yang memutuskan siapa yang bisa jadi teman berdasarkan penampilan atau cara bicara, seolah-olah itu salahnya dia lahir kayak gini. Hari ini adalah ulang tahunnya. Aku berusaha bikin itu jadi spesial. Aku siapkan meja kecil di rumah untuk dia dan beberapa temannya yang datang. Cuma tiga orang yang datang - satu anak cowok yang mungkin di spektrum autis, dan dua teman sekelas. Tapi tetap aja, mereka datang, dan itu berarti banyak. Aku kasih dia PlayStation 3 lamaku sebagai hadiah. Aku pikir itu bakal bikin dia seneng, tapi aku lupa harus ada disk untuk main banyak game di situ. Pas aku nyadar, aku merasa bodoh banget. Dia sih nggak terlalu kecewa; aku bahkan nggak yakin dia paham apa itu konsol. Entah kenapa, aku merasa lebih buruk dibanding dia. Mereka habisin hari main game di ponsel mereka. Semua anak lainnya punya ponsel. Dia nggak punya. Aku bisa lihat dia nyadar. Pas waktunya pulang, mereka nanya boleh nggak main lagi nanti. Semua bilang iya kecuali kakakku - dia bilang nggak mau nanya karena dia tahu aku kerja seharian dan butuh ponselku. Setelah mereka pergi, aku tanya dia dan dia bilang, “Kenapa kamu nggak beli aku ponsel? Nggak sebesar konsol itu.” Dia pikir konsol itu adalah hadiah yang harus menggantikan ponsel. Itu bener-bener bikin aku hancur. Aku nggak mampu beli ponsel. Aku bahkan susah nutup kebutuhan dasar, dan obatnya udah mahal banget. Setelah itu, pikiran gelap mulai datang. Rasanya makalau apa pun yang aku kerjain, aku nggak ada kemajuan untuk diriku sendiri atau kakakku. Besok aku kembali kerja setelah seminggu cuti, dan jujur aku pengen berhenti. Aku nggak ada motivasi - rasanya kayak aku kerja untuk apa gitu. Aku capek. Aku nggak tahu harus ngapain. Aku butuh seseorang buat diajak bicara sebelum aku merasa bisa kehilangan kendali. JazakAllah khair udah baca.