Merasa tersesat dalam kesulitan hidup
Assalamu alaikum, semuanya. Aku tumbuh dalam kondisi yang benar-benar sulit. Orang tuaku berpisah, dan ibuku selalu melampiaskan kemarahannya pada ayahku kepadaku-secara verbal dan fisik. Kemudian, dia menikah lagi, dan saat aku berkunjung, dia melakukan hal yang sama, bahkan kadang mencekikku dan bilang lebih baik aku mati daripada mempermalukannya. Di tengah semua itu, adik tiriku lahir dari pernikahan keduanya, dan suaminya meninggal. Selama dia bersama suaminya, aku tinggal dengan nenekku, yang nggak baik; dia mengusirku dua kali karena masalah pekerjaan rumah dan sering menghinaku, bilang orang tuaku membuangku di depan pintunya. Selama ini, aku hanya berdoa kepada Allah, meminta Dia menyelamatkanku dari situasi ini, memohon pada-Nya. Setelah ayah tiriku meninggal karena kanker, aku dan ibuku mulai tinggal bersama. Aku udah sangat ingin bunuh diri selama 10 tahun, dan itu memengaruhi tubuhku dengan penyakit fisik. Ibuku sendiri terus-menerus mengejekku, dan aku merasa nggak berharga di rumah sendiri. Aku bertanya-tanya gimana seorang ibu bisa begitu kejam pada anaknya. Dia selalu mengungkit-ungkit bahwa dia nggak harus merawatku tapi dia melakukannya, jadi sekarang aku berutang budi padanya, dan yang paling nggak bisa kulakukan adalah menuruti semua keinginannya. Aku mulai menghasilkan uang lebih awal untuk mandiri, dan itu membantu sebentar-saat aku bawa uang, dia senang dan semuanya tenang. Tapi saat pikiran bunuh diriku makin parah waktu kuliah, aku nggak bisa fokus belajar keterampilan buat kerja, jadi setelahnya aku nggak bisa dapet kerjaan yang layak. Sungguh, aku berharap bisa kembali dan melakukan segalanya dengan cara yang berbeda. Aku pengangguran dan udah empat bulan nyari kerja. Dulu aku punya kerjaan, tapi ibuku terus mengejek bahwa itu nggak cukup, menatapku, dan meludahi wajahku. Aku merasa sangat tersesat. Aku juga pengen nikah sama seseorang, tapi orang itu ternyata juga jahat sama aku. Aku cuma merasa terjebak. Aku udah berdoa sama Allah buat bebaskan aku dari rumah ini hampir satu dekade lamanya. Aku merasa harapan udah hilang. Aku nggak tahu harus apa. Bukankah Allah itu adil? Dia adil. Bukankah orang tua punya kewajiban untuk baik pada anak mereka sendiri?