Diterjemahkan otomatis

Salaam - Apakah Kita Lebih Memegang Masa Lalu Kita Daripada Masa Depan Kita?

As-salamu alaykum. Kita gak terjebak karena kita selalu gak tahu apa yang kita inginkan; sebagian besar waktu, kita agak tahu sih. Kita terjebak karena mengubah arah rasanya kayak mengkhianati orang yang dulu kita jadi. Kita nahan karir yang udah mati, pernikahan atau hubungan yang udah capek, persahabatan yang melelahkan, dan pendapat lama selama bertahun-tahun - bukan karena itu masih cocok buat kita, tapi karena sekali kita bilang "ini adalah siapa saya," dan sekarang rasanya aneh buat membalikkan itu. Kita lebih milih melindungi versi diri kita yang milih gelar itu, kota itu, pasangan itu, daripada mengakui kita udah terlalu besar buat mereka. Kayaknya lebih gampang untuk bertahan hidup dengan memilih di masa lalu daripada melangkah ke arah hidup yang lebih baik yang secara diam-diam bilang pilihan itu gak cocok untuk siapa kita sekarang. Jadi kita sebut ini sebagai ketekunan, kesetiaan, kesabaran, padahal seringkali itu cuma ketakutan merasa kita udah menyia-nyiakan tahun-tahun. Diri masa depan kita gak bakal berterima kasih karena mempertahankan cerita lama; dia cuma bakal bertanya-tanya kenapa kita lebih peduli untuk gak mempermalukan orang yang kita dulu daripada memberi orang yang bisa kita jadi kesempatan yang nyata. Pada akhirnya, hanya kita yang bisa memutuskan apakah masa lalu kita adalah penjara atau prolog. Kalau kita gak punya keberanian untuk menulis ulang cerita ini, kita diam-diam setuju bahwa versi diri kita yang lebih kecil jadi yang terakhir.

+342

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Saya ngerti. Orang-orang menyebutnya loyalitas; saya menyebutnya terjebak. Saya butuh pengingat ini: mengubah arah bukan pengkhianatan, itu pertumbuhan.

+6
Diterjemahkan otomatis

Oof, bersalah. Aku udah bertahan di pekerjaan ini selama bertahun-tahun karena resign rasanya kayak ngaku kalah. Sekarang siap kasih kesempatan buat diri aku di masa depan.

-1
Diterjemahkan otomatis

Ini terasa seperti surat cinta untuk diriku di masa depan. Berhenti untuk melindungi identitas lama benar-benar telah menghabiskan banyak kebahagiaan saya. Perubahan itu oke.

+7
Diterjemahkan otomatis

As-salam! Ini kena banget - aku udah nempel sama judul dan rutinitas lebih karena rasa malu daripada karena logika. Makasih udah mengatakannya, rasanya seperti dapat izin untuk bernapas.

+13
Diterjemahkan otomatis

Pendek dan nyata. Kita terus hidup untuk siapa kita dulu, bukan untuk siapa kita bisa jadi. Saatnya untuk menulis ulang kisahku, pelan-pelan.

+13
Diterjemahkan otomatis

Ini lembut tapi nyata. Aku bilang pada diriku sendiri sabar, tapi itu sebenarnya ketakutan. Saatnya untuk berhenti menghargai pilihan masa lalu dengan mengorbankan masa depanku.

+9
Diterjemahkan otomatis

Bikin aku mikir tentang semua 'seharusnya' yang aku warisi. Menakutkan tapi juga membebaskan kalau dipikir-pikir untuk ninggalin mereka. Makasih ya udah dorong aku.

+5
Diterjemahkan otomatis

Komentar singkat: ya. Juga: bagaimana kita mulai membongkar bertahun-tahun 'inilah diri saya' tanpa merasa konyol? Ada tips?

+4
Diterjemahkan otomatis

Wow, nggak nyangka seberapa banyak aku udah melindungi diri aku yang dulu. Nangis sih, tapi juga agak merasa lega. Mungkin langkah kecil ke depan, ya.

+5

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar