saudari
Diterjemahkan otomatis

Terbebani oleh Kekhawatiran untuk Orang-Orang Tersayang

Assalamu alaikum semuanya, Aku benar-benar cuma butuh curhat. Aku butuh doa, kata-kata baik, saran yang bagus-apa pun. Jujur, aku nggak punya siapa-siapa buat diajak bicara. Stresnya numpuk banget sekarang. Aku udah berusaha sebaik mungkin buat tetap positif, tapi ada hari-hari di mana semuanya kerasa banget. Aku cuma punya tiga orang dekat dalam hidupku: suamiku dan orang tuaku. Aku sayang mereka sepenuh hati. Hidupku cuma muter di sekitar mengkhawatirkan mereka. Aku dan suamiku dikenalin dan nikah dalam waktu 7 bulan. Setelah nikah, dia kasar banget sama aku, selalu bentak-bentak soal hal kecil-kayak kalau aku nggak sengaja nabrak pintu atau bikin kesalahan kecil. Aku jadi tegang otot terus dan bahkan muncul uban. Setelah dua tahun nikah, akhirnya dia membaik. Alhamdulillah, sekarang dia jauh lebih baik, tapi aku masih susah move on dari sakit hati dan trauma yang dia sebabin. Kadang-kadang kalau dia lagi bad mood, aku langsung defensif, pasang tembok, dan kepikiran seharian. Aku nggak pernah tahu dia bakal kayak gini sebelum kami nikah. Dia berubah cuma setelah aku benar-benar nutup sisi emosionalku dari dia. Aku masih kadang nangis sendirian soal masa lalu, tapi kebanyakan hari aku baik-baik aja. Kalau kami berantem-yang sekarang jauh lebih jarang dan nggak separah dulu-aku pura-pura nggak peduli, tapi di dalam rasanya sakit. Aku nggak bisa lupain apa yang udah aku lewatin. Itu mengubah aku dalam banyak hal. Aku belum pernah ada di lingkungan setoksik itu sebelumnya. Aku nggak mau cerai karena dia sekarang nggak seburuk itu dan beneran udah berubah. Udah 10 bulan. Tolong jangan suruh aku ninggalin dia. Lalu ada orang tuaku. Aku anak tunggal, dan mereka adalah segalanya buat aku. Ibu didiagnosis kanker payudara, dan ini hal terberat yang pernah keluarga kami hadapi. Tolong doakan dia panjang umur. Tolong doakan dia. Aku tinggal cuma 7 menit naik mobil dan berusaha ada buat dia, tapi rasanya nggak pernah cukup. Dan bapakku. Dia orang yang sangat rumit, dan aku mengkhawatirkannya kayak orang tua yang khawatir sama anaknya. Dia keras kepala banget. Saudara-saudaranya semua manfaatin dia, dan dia ngurus adik perempuannya yang cacat fisik. Aku tahu ngurusin dia itu perbuatan baik, tapi bapakku yang paling tua dan paling nggak sehat di antara mereka. Dia punya masalah kesehatan, dan lihat dia ngangkat adiknya dan nganter ke janji temu bikin aku berharap saudara-saudaranya yang lain ikut bantuin. Aku sebel banget sama mereka. Mereka udah bikin dia nangis. Anak-anak mereka nggak hormat sama dia. Kesehatan bapakku makin merosot gara-gara keluarga besarnya. Aku nggak nyalahin bibiku yang cacat. Yang lain cuma ngeperlakukan dia buruk karena dia nggak berpenghasilan besar dan ngandelin ibuku. Bapakku juga keras kepala banget. Aku nyewa orang buat motongin rumput atau bersihin rumah, tapi dia nolak dan nggak suka aku "buang-buang uang." Aku ajak orang tuaku umrah dan udah ngatur orang buat dorong kursi rodanya, tapi dia malah marah dan rewel banget selama perjalanan. Dia mau ngontrol semuanya tapi nggak sadar umurnya udah di atas 70 dan hampir nggak bisa jalan. Dan dia orangnya lembut-dia nggak pernah belain dirinya sendiri. Dia cuma diem aja nerima semuanya, dan sebagai anak perempuannya, itu bikin aku kesel banget. Aku tahu ini mungkin kedengeran kayak hal sepele, tapi aku ngerasa ini ngerusak kesehatanku. Banyak banget yang belum aku ceritain. Rambutku rontok, berat badanku naik… Aku lihat foto sebelum nikah dan cuma bisa nangis. Postingan ini bukan tentang aku. Aku nggak mau egois dan jadiin ini tentang diriku sendiri. Cuma doakan supaya aku bisa nanganin keluargaku dan rawat mereka. Aku nggak bisa berhenti mikirin mereka. Aku ngerasa sendirian banget. Kalau ketemu temen, aku kadang cerita soal kehidupan pribadiku, dan ujung-ujungnya malah berantem sama suami. Aku nggak punya banyak orang yang mendoakan kebaikan di sekitarku. Aku punya sepupu yang mendoakan aku, tapi kami semua sibuk dengan kehidupan pernikahan masing-masing sekarang. Tolong doakan keluargaku. Tolong doakan ibuku sembuh dari kanker. Tolong doakan bapakku lebih santai. Tolong doakan suamiku jadi lembut dan penyayang sama aku. Tolong doakan aku nemuin ketenangan. Aku nggak bisa cerita semua ini ke suami karena dia terlalu praktis dan bakal bilang aku nggak bersyukur atau ini cuma hidup. Aku cuma pengen pelukan. Aku pengen nangis di pelukan ibuku, tapi aku nggak mau bikin dia stres. Ibu itu belahan jiwaku. Dia satu-satunya orang yang bener-bener ngertiin aku di dunia ini.

+31

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, hati kamu terasa berat banget ya. Semoga Allah meringankan bebanmu dan memberi kesembuhan buat ibumu. Kamu nggak sendirian-umat ini ada di sampingmu.

+2
saudari
Diterjemahkan otomatis

Demi Allah, ini bikin aku nangis. Kekuatanmu benar-benar menginspirasi. Teruslah berdoa di waktu tahajud; Allah mendengar setiap bisikan.

+3
saudari
Diterjemahkan otomatis

Kasih sayangmu buat mereka terpancar jelas dari kata-katamu. Jangan lupa doakan dirimu sendiri juga ya, habibti. Kamu pantas dapat ketenangan.

+1

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar