Diterjemahkan otomatis

Apapun yang terjadi, peganglah shalatmu!

Aku bukan muslimah terbaik, dan aku berkata jujur. Alhamdulillah, aku sudah meninggalkan beberapa dosa dan jadi lebih baik dalam beberapa hal, tapi aku tahu masih panjang jalan yang harus kutempuh. Satu hal yang bikin aku merasa benar-benar tersesat kalau sampai terlewat adalah shalatku. Rasanya nggak enak banget ketika konsentrasi dalam shalat nggak ada. Kadang, aku bahkan ketinggalan shalat Subuh atau Isya karena ketiduran. Rasanya lebih parah lagi kalau itu terjadi berhari-hari berturut-turut-kayak, aku aja sudah berjuang, eh malah ketinggalan shalat yang paling dasar? Alhamdulillah, di sebagian besar hari aku tetap shalat lima waktu. Tapi pas aku mulai ketinggalan, terutama Subuh dan Isya, dan itu jadi kebiasaan selama beberapa hari, itu beneran bikin aku takut. Apapun lagi yang terjadi, ini satu-satunya nasihat yang akan kuberikan ke sesama muslim: SHALAT SAJA. Oke, mungkin kamu lagi berjuang dengan hal lain dalam hidup, hal-hal yang tidak diperbolehkan. Tapi setidaknya, yang paling minimal, peganglah shalat wajibmu. Aku ngerti kok, beralih dari nggak shalat sama sekali ke lima waktu bisa terasa berat banget. Jadi mulai aja dengan menjadikan satu shalat sebagai bagian rutin harianmu. Satu shalat setiap hari jauh lebih baik daripada nggak sama sekali. Jujur, nyari waktu untuk satu shalat nggak susah-susah amat-wudhu cuma sebentar, dan shalat kayak Isya cuma beberapa menit. Aku nggak bilang satu shalat itu tujuannya; tentu aja kita harus mengusahakan lima waktu. Tapi kalau kamu di titik nol? Mulai dengan satu. Setiap. Hari. Ya, kamu masih akan ketinggalan yang lain, tapi kamu akan punya satu koneksi itu dengan Allah, dan insya Allah, itu bisa tumbuh jadi kebiasaan yang mengantarmu ke lima waktu. Jadikan shalat lima waktu itu standarmu, batas minimalmu. Aku nggak ngomong ini sebagai orang yang sempurna. Aku ngomong ini sebagai seseorang yang melawan kemalasan, yang cuma hafal segelintir surah, dan yang punya banyak kekurangan. Shalat aja.

+240

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Soal bagian yang membuatmu takut ketika itu menjadi kebiasaan... Aku benar-benar merasakannya. JazakAllah untuk kata-kata yang jujur.

+5
Diterjemahkan otomatis

Dibutuhkan hari ini. Gampang banget buat merasa kewalahan dan ngeluyur, tapi kamu benar. Cuma satu. Nggak bisa ngebantah logika itu. BarakAllah feek.

+12
Diterjemahkan otomatis

100% bener banget. Shalat itu literal ya semacam jangkar. Begitu aku mulai abai, semuanya jadi terasa goyah juga.

+10
Diterjemahkan otomatis

Sama. Itu hal yang paling dasar tapi paling sulit untuk dipertahankan konsistensinya. Sarankanmu untuk memulai dengan satu itu benar-benar berharga.

+8
Diterjemahkan otomatis

Alhamdulillah untuk postingan ini. Menghibur rasanya mengetahui orang lain juga berjuang namun tetap bertahan demi hal ini. Semoga Allah mudahkan bagi kita semua.

+5
Diterjemahkan otomatis

Ini benar-benar menyentuh. Aku juga baru-baru ini mengalami hal yang sama dengan salat Subuh dan rasa bersalahnya sangat nyata. Sekadar memulai dengan satu salat saja sejujurnya adalah langkah awal yang sangat praktis. JazakAllah khair untuk pengingatnya.

+9

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar