Baru Masuk Islam, Sedikit Kewalahan Rasanya
Hai semuanya, aku baru masuk Islam minggu lalu (27 April). Beberapa hari pertama luar biasa-aku belajar cara shalat, pergi shalat Jumat, dan mengulang Syahadat. Ditambah lagi, aku lumayan bisa mengelola ujian akhir. Tapi jujur, ada kecemasan diam-diam yang mulai merayap. Kadang aku khawatir: Apa keputusanku sudah tepat? Apa aku benar-benar percaya? Bisa nggak aku berubah pikiran nanti? Aku baru serius mempelajari Islam sejak September lalu, dan rasanya aku belum cukup paham. Yang paling sulit adalah menjelaskan ke orang lain kenapa aku mengambil Syahadat. Aku bilang ke Imam bahwa aku takut mati di luar Islam, jadi kami mengumpulkan beberapa teman Muslim dan aku mengucapkan Syahadat. Jadi ya, aku memang takut hukuman abadi kalau aku menolaknya setelah memahaminya dengan baik. (Dan tentu saja, aku percaya keesaan Allah dan Nabi Muhammad, shallallahu ‘alaihi wa sallam). Aku nggak jago debat atau menjelaskan-aku jadi terlalu gugup, wkwk. Kekhawatiran terbesarku sekarang adalah memberi tahu orang tuaku yang ateis tentang keislamanku. Aku lulus kuliah kira-kira dua minggu lagi, dan aku takut mereka pikir aku jadi nggak waras. Aku pernah coba bahas agama dengan mereka beberapa kali waktu remaja, tapi nggak ada hasilnya. Mereka tahu aku ketemu Imam, tapi mengira itu cuma untuk nasihat umum. Aku akan pulang dari kampus minggu depan. Aku sudah shalat lima waktu, tapi aku nggak yakin gimana caranya di rumah. Kedua orang tuaku kerja dari rumah (ibuku full remote, ayahku hybrid), mereka mau pintu kamar terbuka di siang hari, nggak ada kunci, dan mereka sering masuk tanpa ngetuk. Intinya, aku harus bilang ke mereka. Nggak bisa dihindari. Aku terlalu menghormati mereka untuk berbohong, dan hubungan kami sangat baik. Aku nggak minum, nggak pakai narkoba, nggak pacaran, lulus kuliah satu tahun lebih cepat, dan aku pindah ke Irlandia Agustus nanti untuk S2 (jadi aku akan mandiri dalam empat bulan). Singkatnya; Cuma cari saran aja tentang ini-tips atau dukungan apapun sangat kuhargai. Kalau ada perempuan mualaf yang tumbuh di keluarga ateis kebaca ini, aku terutama pengen banget dengar pengalamanmu.