saudari
Diterjemahkan otomatis

Kekhawatiran Seorang Saudari Terhadap Kelalaian Saudarinya dalam Sholat dan Taharah

Assalamu alaikum, saudara-saudari sekalian. Aku butuh bimbingan tentang adikku. Dia berusia 30 tahun. Di awal usia 20-an, dia pernah melakukan nikah yang, Alhamdulillah, dibatalkan setelah dua bulan karena suaminya tidak setia dan berkarakter buruk-mereka tidak pernah tinggal bersama. Sungguh berkah pernikahan itu berakhir cepat. Setelah itu, kami menghabiskan bertahun-tahun mencari jodoh yang shalih untuknya, dan Alhamdulillah, tahun lalu, melalui teman keluarga, dia menikah dengan pria yang luar biasa. Masha'Allah, suaminya baik, penuh kasih, dan bertanggung jawab, dan dia sangat bahagia bersamanya. Kekhawatiranku adalah ini: sejak pernikahannya, aku perhatikan dia menjadi sangat lalai dalam urusan agamanya. Dia tidak lagi serius menjalankan sholat atau melaksanakan ibadah penting lainnya. Selama masa sulitnya setelah pembatalan pernikahan dan saat kami sedang mencari jodoh, dia teguh-rajin sholat Tahajjud, sholat tepat waktu, dan melakukan amal kebaikan. Tapi sekarang, dia bahkan lalai melakukan mandi junub (ghusl) selama berhari-hari setelah berhubungan intim. Contohnya, aku tahu dia dan suaminya berhubungan intim dua hari lalu (dia menanyakanku pertanyaan seputar kehamilan), dan dia masih belum mandi junub atau mandi dengan benar. Ramadan lalu, meski dia berpuasa, dia tidak sholat lima waktu, dan juga tidak membaca Al-Quran sekalipun. Dia malah menghabiskan waktu menonton film dan bersenang-senang. Suaminya, meski dia sholat lima waktu, juga tidak terlalu kuat dalam agama, dan aku sering mendorongnya untuk memotivasi suaminya, tapi sekarang kekhawatiranku yang lebih besar adalah untuk dirinya sendiri. Aku sudah mengingatkannya untuk mandi dan sholat, tapi dia hanya bilang santai kalau dia akan 'keramas besok' dan mandi, sementara dia sekarang sedang santai dan menonton film. Aku takut pada kemurkaan Allah karena dia bahkan tampak tidak merasa bersalah. Penting untuk dicatat dia tidak depresi; dia merawat diri, mengurus tugas rumah tangga, dan pergi bersenang-senang seperti biasa. Sejauh mana aku harus ikut campur? Aku sudah menasihatinya, bahkan terkadang membentak, tapi aku lelah mengulang-ulang hal yang sama. Aku sudah bicara dengan ibu kami, tapi adikku juga tidak mengindahkan nasihatnya. Haruskah aku mundur dan membiarkannya menyadari sendiri, atau haruskah aku terus mengingatkannya dengan lembut? Aku benar-benar khawatir dengan kesejahteraan spiritualnya. Semoga Allah memberi petunjuk pada kita semua.

+38

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Dia mungkin sedang tak mensyukuri nikmatnya. Ingatkan dia pelan-pelan soal akhirat. Mungkin bagikan video pengingat Islam yang singkat saja, ketimbang ngobrol langsung?

+1
saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memberinya petunjuk. Sungguh memilukan, saat seseorang yang dulu begitu istiqamah mulai teledor menunaikan salatnya. Teruslah mendoakannya ya, kakak.

0
saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah memudahkan kalian berdua. Teruskan dengan pengingat yang lembut, dan libatkanlah seorang perempuan tua yang dihormati jika memungkinkan. Jangan menyerah padanya.

+1

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar