Diterjemahkan otomatis

Menghadapi Penolakan Wali dan Perebutan Keluarga: Mencari Bimbingan

Assalamu alaikum. Aku ceritain kisahku di sini karena aku bener-bener mentok dan butuh saran dari komunitas. Aku sekarang di usia yang secara budaya sudah diharapkan menikah, dan selama dua tahun terakhir, ayahku yang jadi waliku menentang aku menikah dengan seorang akh yang sudah aku kenal-tanpa alasan Islami, cuma soal kontrol aja kayaknya. Aku ketemu akh ini dan kasih tahu ibuku tentang dia setelah beberapa bulan, waktu aku udah yakin dia serius mau nikah, soalnya hubunganku sama orang tua dulu nggak bagus dan aku nggak mau mudah ditolak karena aku emang sensitif banget. Itu mungkin salah langkah. Reaksi mereka berat. Dulu aku kira mereka nolak terutama karena dia beda suku, tapi sekarang aku yakin lebih ke urusan kontrol. Udah berkali-kali aku coba ajak bicara baik-baik, curahin perasaan, cuma malah dihina dan diabaikan, berharap hati mereka luluh. Jauh buat kuliah juga nggak memecah kebuntuan. Akh yang mau aku nikahi secara objektif baik: rajin shalat, ke masjid, baik ke orang lain, stabil finansial, dan ibunya mendukung dia. Dinamika keluarganya juga kayaknya baik. Dia bahkan pernah coba menghubungi ayahku dengan sopan, tapi ayah nggak mau ngobrol atau terima perantara, bilang itu haknya nolak siapa pun dan aku nggak seharusnya kenal dia dengan cara yang nggak Islami, meski niatku ya selalu buat nikah. Keadaan makin parah tahun lalu waktu orang tua maksa aku pertimbangin nikah sama pria jauh lebih tua dari budaya kita. Mereka bikin aku tertekan secara emosional, hina penampilanku, kesehatan mentalku, bilang itu hukuman dari Allah, ejek pencapaianku, dan ancam hal-hal ekstrem. Waktu itu aku sadar perlu ambil jarak, jadi aku pergi sebentar, tapi rasa bersalah agama bikin aku balik, berharap mereka paham. Mereka nggak-malah awasin aku ketat, ambil pasporku, dan batasin pertemananku. Di Desember, setelah aku stres berat sampe ibu tahu aku melukai diri sendiri, dia ngomong hal-hal menyakitkan, tapi tiba-tiba berubah, bicara soal rencana pernikahan dan ayah minta detail. Ternyata, itu semua tipuan. Ayahku nggak pernah berniat nanya-nanya; cuma mau informasi aja kalau-kalau aku coba pergi lagi, ulangin dia nggak akan pernah setuju bahkan ancam bakal mengusir aku. Dia klaim ada imam yang nasihatin nggak usah lanjutin pernikahan itu dan aku egois kalo nggak ikut jalur biasa, ngerusak keluarga. Aku bingung, capek, dan mental habis. Aku ngerasa terisolasi, kontak sama temen terbatas. Ayah nggak kasar fisik, tapi dia mudah meledak dan anggap tindakanku sebagai tantangan ke otoritasnya. Aku tahu wilāyahnya bisa ditinjau ulang, tapi aku ngerasa terjebak, kayak kena Stockholm syndrome, nyalahin diri sendiri buat semuanya. Aku bakal sangat hargai masukan apa pun yang baik dari luar soal situasiku. JazakAllah khair udah dengerin.

+63

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Emotional blackmail dan menyita paspor kamu... itu sungguh salah. Kamu butuh sistem pendukung di luar rumah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semoga Allah mudahkan jalanmu.

0
Diterjemahkan otomatis

Tetap kuat, sis. Perilaku ayahmu itu bukan kontrol Islami, itu cuma kontrol biasa aja. Kamu punya hak. Coba mungkin hubungi pusat Islam atau organisasi wanita di daerahmu untuk dukungan.

0
Diterjemahkan otomatis

Ini sungguh menyedihkan untuk dibaca. Niatmu murni. Penolakan seorang wali tanpa alasan Islami yang jelas bisa ditangani. Tolong cari bantuan dari ulama atau imam setempat yang terpercaya; mereka bisa membantu menengahi. Kamu tidak egois karena menginginkan pernikahan yang diridai.

0
Diterjemahkan otomatis

Kamu sudah sangat sabar. Sudah jelas dia pria yang baik. Kalau walimu tidak adil, bisa ditunjuk yang lain. Tolong jangan menyerahkan harapan atau kesehatan mentalmu untuk hal ini.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar