saudari
Diterjemahkan otomatis

menjalani hidup sebagai hijabi di barat

assalamu alaikum semuanya! gue cuma pengen sharing sedikit soal tantangan jadi hijabi di negara barat. gue bentar lagi mau mulai kuliah, tapi gue udah pakai hijab 7 tahun, alhamdulilah. gue selalu merasa damai karena dulu dikasih kesempatan sekolah yang banyak hijabi lainnya. tapi makin gede dan mau masuk kuliah, gue mulai punya perasaan campur aduk. bukan berarti gue ragu hijab itu fardh-gue sepenuhnya yakin ini wajib. lebih ke, makin susah buat tetap teguh sambil hidup di barat. pertama, suasana politik di tempat gue tinggal makin tegang (kayak kebangkitan partai sayap kanan). kenyataannya, banyak muslimah yang pakai hijab lebih rentan kena pelecehan islamofobia karena kami terlihat muslim. entah itu kekerasan verbal, serangan fisik, atau bahkan kekerasan fatal, ini ketakutan nyata yang banyak kami bawa. sayangnya, gue udah ngalamin beberapa insiden pelecehan verbal cuma gara-gara hijab gue. susah buat diabaikan gitu aja. meskipun laki-laki muslim juga pasti ngalamin islamofobia, banyak yang nggak se-gampang itu dikenali sebagai muslim dibanding perempuan berhijab, dan perbedaan mencolok itu bawa perjuangan tersendiri. kedua, poin berikutnya lebih pribadi, dan gue tahu mungkin ada yang anggap dangkal, tapi gue mau jujur karena gue pikir banyak muslimah muda diam-diam bergumul dengan perasaan yang sama. seiring gue makin dewasa, ada saatnya gue lebih suka penampilan gue tanpa hijab. kadang gue pengen orang lihat *gue* dulu sebelum mereka lihat "si hijabi." gue nggak mau seluruh identitas gue cuma jadi tentang apa yang gue pakai. tentu, gue tahu tujuan hijab bukan soal kecantikan atau biar cocok, dan gue bangga banget islam jadi bagian dari identitas gue, tapi itu nggak ngilangin kebutuhan manusiawi buat merasa diterima, apalagi di masyarakat yang terus-terusan ngingetin kamu beda dari hampir semua orang di sekitar. gue nggak bilang gue berencana lepas hijab, sebelum ada yang loncat ke kesimpulan. alhamdulilah, gue masih pakai, dan gue minta Allah jaga gue tetap istiqomah. gue cuma mau tunjukin sebagian perjuangan yang banyak muslimah hadapi, terutama kami yang di negara barat. orang-orang perlu lebih sadar dan perhatian soal kenapa banyak muslimah mungkin pilih lepas hijab. lagi, gue harus bilang gue nggak setuju sama yang coba putar balik aturan agama biar sesuai keinginan mereka, karena hijab ITU fardh. tapi, kita semua berdosa, kita semua nggak sempurna dan bisa salah. jadi kenapa jadi tabu banget kalau seorang muslimah secara teknis berdosa dengan lepas hijab karena ketakutan atau pergumulan nyata, tapi yang lain nggak dipermalukan publik atas dosa mereka? kita semua punya dosa masing-masing, dan nggak ada yang "lebih baik" dari yang lain, laki-laki atau perempuan. pakai atau nggak pakai hijab nggak ngeluarin kita dari Islam, kan? kita pakai karena Allah SWT perintahkan, bukan karena laki-laki, tapi entah kenapa sebagian laki-laki bertindak seolah melepasnya itu serangan pribadi. terus pikirkan apa yang dilihat non-muslim dari luar: laki-laki marah-marah dan merendahkan perempuan karena lepas hijab. pikirkan bagaimana itu mencerminkan kita. Islam itu agama damai, tapi jelas sebagian orang nggak. reaksi bodoh ini cuma bikin orang menjauh dari iman. kesombongan di komunitas kita harus berhenti, terutama dengan maraknya yang disebut 'dawah bros' yang malah ngusir orang dari agama kita yang indah. tolong, belajar buat punya kasih sayang saat ngobrolin ini kalau kamu laki-laki, karena kamu nggak akan pernah tahu langsung gimana rasanya pakai hijab. dan kalau kamu merasa tersinggung atau diserang sama postingan ini, mungkin kamu bagian dari masalah. semoga Allah SWT kasih petunjuk ke kamu, beneran. anyway, itu aja dari gue hari ini, dan gue doa semoga Allah SWT kasih petunjuk dan kekuatan ke seluruh umat. kita bener-bener butuh itu </3

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Duh, aku ngerti banget deh soal ‘lihat aku sebelum pakai hijab’ itu. Beberapa hari emang susah, apalagi pas semua orang cuma ngeliatin aja.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Kak, kata-katamu ngena banget. Aku pernah dilempari batu cuma gara-gara jalan kaki ke toko kelontong. Semoga Allah melindungi kita dan nguatin kita terus.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Makasih sudah berani ngomong. Banyak dari kita yang diam-diam berjuang melawan pikiran kayak gini. Itu bukan kelemahan, itu cuma jadi manusia di dunia yang keras.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Semoga Allah membalas kejujuranmu. Gak apa-apa kok kalau lagi struggle, itu bagian dari ujiannya. Tinggal terus perbanyak doa dan deket-deket sama ukhti-ukhti yang ngerti aja.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Jujur, aku nangis. Susah banget pas kamu cuma pengin nyatu sama yang lain tapi kerudung bikin kamu kelihatan beda. Tapi terus aku inget, aku pakai ini buat Allah, bukan buat mereka.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Duh, aku gak kuat sama kemunafikan ini. Cowok bisa punya janggut lebat dan kalau dicukur, gak ada yang peduli, tapi kita malah dipermalukan karena perjuangan kita sendiri. Capek banget rasanya.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Para dai itu parah banget. Mereka bikin semuanya jadi tentang diri mereka sendiri, bukan soal hubungan kita dengan Allah. Kamu bener, kita butuh kasih sayang, bukan teriakan.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar