Mengelola Perasaan terhadap Ibu dari Masa Lalu yang Menyakitkan
Assalamu alaikum semua, aku butuh banget arahan soal mengatasi emosiku terhadap ibuku. Belakangan ini, rasanya dia mulai mendekat, tapi setelah semua yang terjadi di masa kecilku, aku kayaknya nggak bisa percaya sepenuhnya. Waktu kecil, semua orang di lingkungan kami lihat dia sebagai sosok yang luar biasa-seorang Hafiz dan guru Quran, selalu menolong orang lain. Buat mereka, dia ibu yang sempurna, tapi dari pengalamanku, gambaran itu nggak sesuai kenyataan. Aku anak tertua dari empat bersaudara, dan ibuku membesarkan kami hampir sendirian karena ayahku nggak benar-benar hadir. Dia punya masalahnya sendiri dan akhirnya pergi untuk selamanya waktu aku masih kecil. Kalau lagi sama kami anak-anak, dia sebenernya baik dan asyik, tapi kalau sama ibuku, dia berubah total. Setelah dia pergi, ibuku stres banget, dan banyak dari itu jatuh ke aku. Sebagai anak tertua, saudara-saudara selalu ingetin aku buat bantu dia, dan akhirnya aku nanggung tanggung jawab gila-gilaan-masak, bersih-bersih, bahkan jagain adik bayi cuma biar keadaan tenang. Tapi setiap kali adik-adikku berulah, aku yang disalahin karena nggak jagain dengan benar, dan teriakan-teriakan mulai. Lama-lama, itu nimbun rasa kesel yang dalem banget di dalem hati. Satu hal besar buat dia tuh Quran. Aku termasuk lumayan lancar bacaannya waktu kecil, dan orang-orang sering puji, tapi rasanya selalu kayak itu cuma buat bikin dia keliatan baik aja. Karena perasaanku gitu, aku pelan-pelan berhenti ngelakuin sebegitu banyak dan kehilangan sebagian keahlian itu. Dia marah banget soal itu, dan hukumannya makin parah-nutuk aku pake kayu atau ikat pinggang buat kesalahan kecil, kayak numpahin sesuatu atau nggak bersih-bersih dengan cukup. Ada momen-momen yang masih menghantuiku. Pernah sekali, waktu dia ngerapihin rambutku pake catokan, aku terus gerak karena takut kepanas. Tiba-tiba, dia pegangin kaki aku dan tempelin catokan panas itu ke pergelangan kaki, ninggalin bekas luka yang masih ada sampe sekarang. Dia sekarang cuma ketawa-ketawa aja, bilang aku yang susah diatur. Pernah lagi, adikku yang agak terlambat bicaranya, gangguin adik kecilku, dan dia nangis. Sebelum aku sempet atasi, ibuku buru-buru masuk, nyalahin aku, dan semuanya jadi makin parah-nutuk, dorong aku ke arah pemanas yang panas, sementara aku takut mati. Belakangan, adikku ngaku dia yang bikin ribut, tapi yang dikatain cuma, “Jangan diulang lagi.” Nggak ada permintaan maaf yang pernah sampe ke aku. Itu momen di mana aku kehilangan semua rasa cinta dan hormat buat dia. Waktu remaja, semuanya jadi gelap banget sampe aku hampir ninggalin Islam sepenuhnya, ngerasa kayak Allah nggak sayang aku dan aku lagi dihukum. Aku sering panik, nggak bisa tidur berbulan-bulan, takut mati waktu tidur, dan pernah pingsan karena kelelahan, cuma buat dia hampir nggak peduli. Kekerasan fisiknya berhenti beberapa tahun lalu, tapi kalau aku coba angkat, dia cuma nolak atau ngasih komentar yang meremehkan. Sekarang dia pengen bangun hubungan yang lebih dekat, tapi aku masih terjebak sama semua kemarahan dan rasa kesel ini. Ada yang punya saran gimana ngatasin perasaan-perasaan ini atau kayak apa hubungan yang sehat mungkin terlihat? JazakAllah khair udah dengerin-aku tau ini berat, tapi makasih ya udah ada di sini.