Ibuku menarik restunya setelah aku diterima di program master beasiswa penuh di luar negeri, dan aku ragu apakah pergi akan salah
Assalamu alaikum, begini ceritanya. Aku seorang akhwat yang baru lulus kuliah. Sebelum wisuda, kakak perempuanku nanya apakah aku mau pergi ke luar negeri bareng anaknya supaya dia bisa sekolah sementara aku ambil S2 di negara yang sama. Awalnya aku ragu-aku baru aja lulus dan pengen langsung kerja, bangun karier, dan akhirnya mandiri secara finansial. Uang selalu jadi topik sensitif karena orang tuaku bikin aku merasa bersalah soal itu, meskipun mereka sebenarnya mendukungku. Mereka bertingkah seolah kami kesulitan, tapi gaya hidup kami menunjukkan sebaliknya, jadi aku selalu ngerasa terbebani buat jadi mandiri. Nah, kakakku nawarin buat nanggung semuanya-kuliah, tempat tinggal, semua biaya besar kecuali pengeluaran pribadiku, yang mana itu adil. Awalnya aku pikir aku bakal nunda karierku demi anaknya, tapi kemudian aku sadar: ini berkah besar. Gelar S2 gratis? Cuma orang bodoh yang nolak. Jadi aku setuju. Kami rencanain semuanya berbulan-bulan sebelum aku resmi lulus. Pas aku dapet ijazah, kami dateng ke orang tua buat minta restu, sekitar setengah tahun sebelum daftar. Mereka oke-oke aja-intinya bilang “kalau kami nggak bayar, lakuin aja apa yang kamu mau.” Kami emang bilang kalau kami perlu mereka nutupin biaya hidup sehari-hariku, dan mereka oke, malah nyemangatin. Mereka agak khawatir soal aku ngadepin hidup di negara baru, tapi nggak nolak. Kami ngomongin soal mereka ngunjungin dan segalanya, jadi aku pikir semuanya udah beres. Berbulan-bulan berlalu. Aku sibuk daftar, ngurusin berkas, dan ngasih kabar kecil ke orang tua. Ada urusan keluarga yang muncul dan bikin semua orang teralihkan. Terus tiba-tiba, bapakku nelpon kakakku dan bilang aku nggak boleh pergi kecuali ibuku ikut-dan kakakku harus bayarin visa dia dan semuanya. Ingat ya, ibuku punya beberapa sifat sulit, dan dia sama kakakku nggak deket. Kakakku kesel, bilang ke dia, “Nggak cukup ya aku bayarin kuliah anakmu?” Dan jujur, aku paham-mereka udah kirim kakak-kakakku yang lain ke luar negeri dan nanggung semuanya penuh. Tapi pas kakakku bantu aku dapet kesempatan yang sama kayak yang mereka kasih ke kakak-kakakku, jadi masalah? Rasanya egois banget. Beberapa bulan lagi berlalu, dan hari ini aku dapet email: aku resmi diterima! Aku seneng banget dan langsung kasih tau orang tuaku. Tapi ibuku cuma natap aku dan bilang, “Aku udah mutusin aku nggak ngasih restu, dan kalau kamu pergi, aku bahkan nggak bakal ngunjungin kamu.” Mereka bener-bener berbalik, bersikap seolah nggak pernah setuju atau dukung aku. Seakan-akan bulan-bulan perencanaan itu nggak pernah terjadi. Aku tanya kenapa dia nggak bilang ini sebelumnya, dan dia hindarin pertanyaannya. Pas aku minta alasan, dia cuma bilang aku nggak bertanggung jawab-padahal dia tau aku bertanggung jawab. Aku udah buktiin berkali-kali. Yang paling nyakitin? Mereka bahkan nggak ngucapin selamat. Nggak ada “masyaAllah” atau “kami bangga padamu.” Nggak ada apa-apa. Aku diterima di program S2 yang nggak aku bayar, dan orang tuaku sendiri intinya ngancam aku. Aku bimbang-apakah salah kalau aku pergi tanpa restunya?