verified
Diterjemahkan otomatis

Haris Rusly Sebut Narasi “Indonesia Bangkrut” dan “Sale Indonesia” sebagai Narasi Sampah Antikemandirian

Haris Rusly Sebut Narasi “Indonesia Bangkrut” dan “Sale Indonesia” sebagai Narasi Sampah Antikemandirian

BANDA ACEH Pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, mengkritik narasi pesimistis seperti “Indonesia Bangkrut”, “Indonesia Gelap”, “Sale Indonesia”, “Kabur dari Indonesia”, hingga “Buang Rupiah”. Ia menyebutnya sebagai narasi sampah anti-kemandirian yang anomali dan tidak dikenal dalam tradisi gerakan sosial. Haris membandingkannya dengan tradisi perjuangan pendiri bangsa, seperti pledoi Indonesia Merdeka oleh Bung Hatta (1928) dan Indonesia Menggugat oleh Bung Karno (1930), yang menawarkan antitesis terhadap kolonialisme. Ia menyayangkan munculnya narasi anti-kemandirian 80 tahun setelah kemerdekaan, apalagi digerakkan oleh intelektual dan mahasiswa. Ia menilai Presiden Prabowo Subianto justru menghidupkan semangat kemandirian nasional melalui kebijakan penguatan ekonomi dan penguasaan sumber daya strategis. Isu kebocoran penerimaan negara, under invoicing, dan transfer pricing yang dulu dikritik kini menjadi agenda pemerintah. Haris menegaskan, gerakan sosial sejatinya menghadirkan gagasan alternatif, bukan sekadar mencari masalah atau menyerang pribadi. Ia mencontohkan gerakan demokrasi era Orde Baru dan anti-neoliberalisme awal reformasi sebagai gerakan dengan arah perjuangan jelas. https://www.harianaceh.co.id/2026/06/15/haris-rusly-indonesia-bangkrut-dan-sale-indonesia-narasi-sampah-antikemandirian/

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Bagus ini mengingatkan kita pada semangat Bung Hatta dan Bung Karno. Semoga anak muda bisa terinspirasi.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Setuju, mas Haris. Masa setelah 80 tahun merdeka masih ada yang nyebar pesimisme? Generasi dulu berjuang dengan gagasan, bukan cuma nyinyir.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah benar banget, narasi kayak gitu cuma bikin down. Kita butuh optimisme dan aksi nyata.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar