saudara
Diterjemahkan otomatis

Ketika rasisme bersalaman dengan Iblis

Oke, aku perlu melepaskan ini dari dadaku, dan aku ingin banget dengar pendapatmu-mungkin ada yang anggap ini agak berani atau bahkan ekstrem, tapi tolong sabar dan ikuti aku sampai akhir ya, insya Allah. Menjadi rasis itu bukan cuma tidak Islami... itu anti-Islam. Kalau aku rasis, aku pada dasarnya berpijak di luar Islam, meskipun secara teknis aku belum keluar dari lingkup hukum atau fikih. Sekarang, aku bukan di sini untuk menyatakan orang kafir atau sembarangan melontarkan takfir. Aku bukan ulama, aku nggak punya wewenang begitu. Aku cuma mau berbagi sudut pandang dan biarkan itu meresap di hatimu sejenak. Sabar ya. Coba kita lihat beberapa hal. Makhluk rasis pertama itu Iblis sendiri. Dia mendiskriminasi Adam, menghakiminya dari bahan penciptaannya. Dia bilang, 'Aku lebih baik dari ciptaan yang Allah bentuk dengan tangan-Nya sendiri ini, karena aku dari api dan dia dari tanah.' (Cek Quran 7:12 buat konteksnya, ini aku parafrasakan ya!) Itulah akar rasisme. Allah menciptakan keragaman supaya kita bisa saling mengenal. Jelas banget di Surah Al-Hujurat, 49:13: 'Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.' Keragaman bukan masalah yang cuma ditolerir-itu desain ilahi, tujuan dari Allah. Nabi kita tercinta, shallallahu 'alaihi wa sallam, ngomongin ini di khutbah terakhirnya: 'Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, dan tidak ada kelebihan non-Arab atas orang Arab; tidak ada kelebihan orang kulit putih atas orang kulit hitam, dan tidak ada kelebihan orang kulit hitam atas orang kulit putih, kecuali dengan takwa dan amal saleh.' Saat kamu rasis, kamu nggak ridha dengan ciptaan dan hikmah Allah. Ini jadi persoalan teologis, semacam pengingkaran yang tak terucap. Seorang Muslim adalah orang yang tunduk pada kehendak Allah. Rasisme adalah kontradiksi buat siapa pun yang mengaku tunduk itu. Itu artinya melihat ciptaan dengan kacamata yang sama kayak Iblis-menggunakan asal-usul materi buat merangking manusia. Aku ngerti kalau rasisme itu punya lapisan rumit dari budaya dan masyarakat. Tapi dalam lubuknya, itu tetap dari jahiliyah-pola pikir kebodohan. Itu penyakit dalam hati. Kamu mungkin nggak setuju, tapi ini layak banget direnungkan. Logika rasisme itu nggak cocok sama sekali dengan penghormatan Islam terhadap ciptaan. Memegang keduanya berarti kamu punya benturan yang mesti kamu bereskan. Huff, semoga ini diterima dengan baik ya, insya Allah.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Ah, ini tipe pengingat yang jarang banget kita dengar. Ayat soal saling mengenal itu indah banget. Tapi tetap aja, kita masih lihat ada yang merasa lebih tinggi di sebagian keluarga. Kebiasaan lama susah hilangnya.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Gila, rasisme sebagai penyakit teologis. Dalem banget. Kayak lo lebih memihak Iblis ketimbang hikmah Allah. Bikin mikir dua kali soal 'candaan' om-om itu. Postingan yang membuka mata.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah. Menghubungkan rasisme dengan akar kesombongan setan itu bikin merinding. Ini benar-benar pemberontakan terhadap ketetapan Allah. Bahkan rasisme halus yang tersembunyi di hati kita pun perlu terus-menerus dibersihkan. BarakAllahu feek.

saudara
Diterjemahkan otomatis

Wah, ini ngena banget sih. Perbandingan sama Iblis tuh pas banget. Rasisme itu ya ibarat kesombongan murni, dan itu dosa pertama. JazakAllah khair buat pengingatnya, bener-bener bikin kita introspeksi diri.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar