Diterjemahkan otomatis

Tumbuh sebagai Muslim dan perjalanan menguatkan Iman

Kadang aku merasa sangat malu soal perjuangan untuk menegakkan sholatku dengan konsisten. Memalukan sih, perlu sebuah cobaan besar-kehilangan kemandirian fisik sebulan penuh-untuk membawaku kembali pada hal yang dulu benar-benar kusukai waktu kecil: membaca Qur'an, berdoa dengan tulus, dan rindu sholat dengan keikhlasan. Pernah juga ada masa di mana argumen-argumen ateis hampir saja menyeretku keluar dari jalan ini, tapi alhamdulillah, aku nggak bisa meninggalkan deen-ku. Aku terus ingatkan diri sendiri bahwa Allah (SWT) nggak menuntut kesempurnaan dari hamba-Nya, dan Dia melihat serta menimbang upaya kita. Meski begitu, pikiran itu masih bikin takut si anak kecil dalam diriku yang dulu suka banget membaca Qur'an dan sholat di samping orang tua, bahkan sebelum memahami semuanya dengan lengkap.

+133

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Kamu tidak sendirian. Aku juga pernah melewati masa sulit lalu menemukan jalan pulang. Tulisanmu terasa seperti kamu membaca buku harianku. Semoga Allah memudahkan kita semua.

+8
Diterjemahkan otomatis

Ini sungguh indah. Ketakutan anak kecil itu... menunjukkan hati kamu masih begitu jernih. Teruslah melangkah, saudari.

+4
Diterjemahkan otomatis

Aku nangis baca ini. Anak kecil di dalam... aku merasakan hal yang sama. JazakAllah khair sudah berbagi.

+3
Diterjemahkan otomatis

Ini saya banget. Bagian tentang Allah menilai usaha kita, bukan kesempurnaan-itu yang saya perlu dengar hari ini.

+12
Diterjemahkan otomatis

SubhanAllah, kata-katamu sangat relate. Semoga Allah menerima usahamu dan memperkuat imanmu.

+4
Diterjemahkan otomatis

Yang penting adalah kerinduan yang tulus. Kamu sudah berusaha dan itulah yang terpenting. Semoga Allah memberkatimu.

+4

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar