saudari
Diterjemahkan otomatis

Merasa buntu soal cara menghadapi kakakku dan hubungannya

Assalamu alaikum, aku benar-benar perlu curhat. Aku umur awal 20-an, dan adik laki-lakiku-cuma beda setahun-udah beberapa tahun ini pacaran sama cewek non-Muslim, kayaknya beberapa tahun. Aku inget dulu sadar mereka keliatan deket banget, sama teleponan yang lama dan sering, tapi aku nggak ngomong apa-apa. Waktu itu aku pikir, kalau orang tuaku aja nggak turun tangan (meskipun aku bisa lihat mereka juga nyadar dan penasaran), siapa aku buat ikut campur? Kalau dipikir-pikir lagi, kadang aku ngerasa mungkin keadaan bisa beda kalau aku ngomong lebih awal, tapi mungkin itu cuma caraku ngurangin rasa bersalah sendiri. Aku terus-terusan bolak-balik antara mikir dia udah dewasa sekarang, alhamdulillah, udah mandiri dan bisa nafkahin diri sendiri dan bikin pilihan sendiri, sama khawatir biasa. Dan jujur, banyak khawatir itu datangnya dari ibuku. Dia stress banget soal adikku dan nggak punya siapa-siapa buat diajak ngobrol kecuali aku, yang malah bikin aku makin cemas. Yang susah buat dia adalah dia nggak bisa ngandelin ayahku soal ini-ayah selalu nge-blank kalau topik ini muncul. Jadi dia sendirian sama ketakutannya. Ayahku, meskipun biasanya dia yang galak, nggak pernah sekalipun ngomong langsung ke adikku, padahal mereka berdua nganggep ini masalah besar. Bingung deh-kenapa dia nggak ngomong apa-apa? Sementara itu, ibuku udah coba ngomong sama dia mungkin dua kali, nasehatin dia buat nggak lanjutin hubungan itu. Pada akhirnya, aku tau ini keputusannya, dan aku selalu doain dia. Aku pernah ngobrol sama dia lebih dari setahun yang lalu, sebelum orang tuaku ngomong, karena aku penasaran dan agak khawatir. Keliatan jelas dia nyimpen rahasia ini, meskipun kita semua sebenernya udah tau. Jujur aku pikir kalau aku nggak nanya waktu itu, orang tuaku mungkin nggak akan pernah ngungkit, meskipun perasaan mereka kuat banget. Tapi waktu itu, dia sama ceweknya udah punya hubungan yang kuat, meskipun naik turun, selama tiga tahun waktu kuliah S1. Sekarang udah lebih lama lagi, mungkin lima tahun lebih. Aku nggak pernah ngungkit lagi sejak itu, tapi aku tau mereka masih bareng. Pasti itu jadi terlalu berat buat dia, soalnya baru-baru ini dia blak-blakan ke orang tua kalau dia masih sama dia dan nggak bisa tanpa dia-katanya, mereka bahkan pernah coba putus kontak sebelumnya. Aku bahkan nggak yakin sebenernya aku nanya apa. Aku nggak punya siapa-siapa buat ngobrol soal ini di dunia nyata, dan karena lagi di rumah waktu liburan musim panas tanpa banyak kegiatan, malah bikin aku lihat langsung kecemasan ibu dan ayahku. Jadi aku mikir apa aku harus tetap ngelakuin sesuatu. Pas ketemu lagi sama dia, aku terus ngerasa kayak kelewatan kesempatan buat ngobrol lagi, meskipun sekarang aku nggak yakin tindakan apapun bisa ngebantu. Sebagian diriku khawatir aku cuma ngindarin tanggung jawab yang harusnya masih aku pikul. Aku nggak suka ide buat ngomong lagi ke dia karena aku sayang dan peduli sama dia, dan aku bisa lihat dia juga berjuang sama ini-mungkin bahkan ngerasa bersalah atau malu. Tapi sakit juga ngeliat orang tuaku, terutama ibuku, dalam situasi ini. Dan aku frustrasi banget sama ayahku karena, takut berantem sama adikku (mereka sering salah paham, dan adikku nggak pernah ngalah), dia pura-pura nggak terjadi apa-apa. Itu bikin aku harus nenangin ibuku dan terus-terusan ngecek peranku sendiri dalam semua ini. Di atas itu semua, aku bingung gimana harus bersikap sama adikku sekarang. Suasananya jadi canggung, kayak kita berdua saling hindarin masalah besar. Bikin sedih, dan aku mikir apa aku harus mulai nanya-nanya soal ceweknya. Tapi aku takut dengan gitu, aku jadi ngasih tanda setuju atau bikin hubungan mereka keliatan biasa. Dan ini yang personal buatku: banyak kesedihanku datang dari ngeliat seberapa sering dia sms-an dan telponan sama dia, dibandingin betapa jarangnya dia hubungin aku atau orang tua. Dia nggak pernah kontak aku duluan, dan kalau kami ngobrol, rasanya satu arah, aku yang banyak cerita. Aku pernah becandain soal ini, tapi tetep aja nyakitin. Aku pengen deket sama dia, tapi aku nggak bisa bedain apakah kami emang selalu sejauh ini atau aku cuma jadi posesif sekarang karena dia punya orang spesial. Aku udah coba mikirin, tapi aku takut kalau aku ungkit, dia pikir aku cuma nyari-nyari kesalahan atau coba ngatur kehidupan pribadinya, apalagi aku dan orang tuaku nggak sembunyiin ketidaksetujuan kami. Setiap saran atau pikiran, atau bahkan yang ngingetin, bakal berarti banget. Jazakallah khair.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis, aku ngerti banget perasaanmu. Susah banget ya lihat keluarga berjuang sendiri dalam diam. Mungkin coba lebih sering aja ngajak dia hang out, tanpa tekanan. Bangun dulu kedekatannya, pelan-pelan nanti ingetin soal yang halal. Doaku buat kalian semua.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Aduh, sikap bapak yang menutup diri itu ngena banget. Banyak kok bapak-bapak desi yang kayak gitu. Jangan terlalu keras sama diri sendiri ya, kamu nggak bertanggung jawab atas pilihan-pilihan dia. Tetap aja jadi kakak yang penyayang, itu lebih membuka pintu hati daripada ceramah.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ibumu terdengar capek banget. Temani dia, tapi jangan sampai kecemasannya ikut nguras tenagamu. Mungkin bisa coba usulin konseling keluarga gitu? Nggak gampang sih aku tahu. Dan jangan biasakan hubungan yang haram itu dengan nanya-nanya soal dia santai aja.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar