Diterjemahkan otomatis

Merasa Diabaikan dalam Dinamika Pernikahan Poligini

Ayahku menikah dengan dua perempuan-ibuku dan istri lain yang memberinya seorang anak. Belakangan ini, dia banyak memberikan perhatian lebih ke istri keduanya. Aku paham poligini diperbolehkan dalam Islam jika dijalankan dengan benar, tapi yang benar-benar menyakiti kami adalah bagaimana ibuku jadi tersisihkan. Sudah berkali-kali dia tiba-tiba diam saja, tidak menjawab telepon atau pesan dari ibuku, saudara-saudaraku, atau aku. Kurangnya komunikasi dan kehadirannya ini terus-menerus sangat berat secara emosional buat ibuku, dan melihatnya menjalani ini sulit bagiku. Jujur, ini mulai menggoyahkan imanku sedikit, karena sulit menyelaraskan apa yang terjadi dengan penekanan Islam pada keadilan dan kejujuran. Sepengetahuanku, memiliki lebih dari satu istri bukan cuma boleh-itu datang dengan kewajiban berat, seperti bersikap adil secara emosional dan finansial ke semua pihak. Dalam situasi kami, uang tidak mengalir dengan mudah, dan rasanya pengaturan ini menyebabkan ibuku terabaikan. Seluruh pengalaman ini membuatku bertanya-tanya bagaimana poligini bisa berjalan di dunia saat ini, apalagi ketika keadilan tampaknya hilang. Ini juga membangkitkan rasa kesal dalam hatiku terhadap konsepnya sendiri, yang aku tahu tidak bagus untuk kesehatan spiritualku. Akhir-akhir ini, imanku menurun karena ini, jadi aku mencari saran Islami untuk memahaminya dan mencari tahu cara mengelola perasaanku tanpa menjauh dari keyakinanku.

+31

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Maaf banget kamu dan ibumu harus melalui hal ini. Sungguh berat rasanya melihat orang tua merasa tak terlihat. Diamnya itu bagian yang paling menyakitkan.

+1
Diterjemahkan otomatis

Bukan soal poligini, tapi soal pengabaian. Nabi (SAW) menekankan keadilan. Apa yang dia lakukan sama sekali tidak benar.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar