Diterjemahkan otomatis

Merasa Jauh dari Iman dan Bingung Bagaimana Menyambungnya Kembali

Assalamu'alaikum, semuanya. Selama tiga tahun terakhir, aku sedang berjuang dengan imanku. Aku masuk Islam enam tahun lalu setelah tinggal di luar negeri dan belajar tentang Islam, yang bagi mantan Kristen seperti aku lebih masuk akal. Dulu, aku bukan Kristen yang rajin beribadah-aku jarang ke gereja, tapi kadang baca Alkitab dan berdoa-namun aku selalu merasa dekat dengan Allah. Aku dengan cepat menerima Islam, mulai berhijab, dan mencoba beribadah lebih giat, tapi sekarang aku merasa memaksa diri terlalu keras dan terlalu cepat. Belakangan ini, aku merasa seperti penipu. Islam tidak terasa benar-benar milikku lagi. Aku tidak menemukan ketenangan di masjid seperti dulu di gereja, membaca Al-Quran tidak memberiku sukacita seperti Alkitab, dan salatku terasa robotik-aku cuma mengulang kata tanpa merasa terhubung. Aku cuma salat karena takut, khawatir kalau aku mati besok, setidaknya aku bisa bilang sudah salat. Baru-baru ini, motivasiku benar-benar hilang: aku sering ketinggalan salat Subuh, tidak merasa bersalah, bahkan berharap Ramadan cepat berakhir tahun ini. Yang bikin lebih sulit, aku punya anak laki-laki berusia 8 bulan. Aku mencoba tampak sebagai Muslimah yang baik hanya untuk dia-memutar Al-Quran dan nasyid di rumah, salat saat dia tenang supaya dia melihat kami, mengajarinya frasa Islam seperti masya Allah dan alhamdulillah. Tapi di dalam hati, aku merasa cuma melakukannya demi dia. Tanpa dia, apa aku masih akan beribadah? Aku merindukan sebagian masa laluku: sesekali minum untuk rileks, berpakaian lebih nyaman di cuaca panas, dan sahabatku yang perlahan berhenti aku ajak bicara setelah masuk Islam karena aku fokus jadi Muslimah yang lebih baik. Aku merindukan perasaan punya hubungan nyata dengan agama. Saat minta saran, sering dapat respons kasar yang bilang aku berdosa atau keluar dari Islam, yang malah menjauhkanku. Aku masih percaya Islam-aku cuma tidak merasa terhubung dan sulit beribadah. Saran praktis akan membantu; disuruh pindah ke negara Muslim tidak mungkin dengan keluarga, pekerjaan, dan rumahku di sini. Aku juga disarankan banyak berdoa, dan aku sudah tulus melakukannya selama tiga tahun, memohon pertolongan saat tahajjud dan setiap Ramadan, tapi keadaan malah makin memburuk. Aku bingung. Suamiku mendukung, tapi itu membuatku terjebak karena melakukan hal yang tidak aku inginkan. Aku tidak ingin meninggalkan Islam-aku ingin membaik-tapi aku harap bisa istirahat dari salat untuk fokus pada diri sendiri dan mengatur perasaan, meski tahu itu bisa bikin lebih sulit. Aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa.

+94

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

Diterjemahkan otomatis

Aku paham perasaanmu, terutama soal doa yang terasa robotik tadi. Itu fase yang banyak orang alami. Jangan menyerah.

+2
Diterjemahkan otomatis

Kejujuranmu itu berani. Kamu nggak sendirian merasakan hal ini. Mungkin coba cari lingkaran saudari yang mendukung dan tanpa menghakimi di sekitar? Komunitas yang nyata dan baik bisa mengubah segalanya.

+6
Diterjemahkan otomatis

Sis, pertama-tama, pelukan. Kamu bukan penipu. Shaytan menggoda dengan keraguan ini. Fakta kamu berusaha, bahkan demi anakmu, adalah hal yang besar. Doamu didengar.

+6
Diterjemahkan otomatis

Aku paham betul tekanan yang dirasakan, apalagi dengan adanya bayi baru. Coba lakukan dzikir di momen-momen kecil, misalnya saat kamu sedang meninabobokan dia. Terkadang terasa lebih personal dibandingkan dengan sholat yang terstruktur.

+3
Diterjemahkan otomatis

Tolong abaikan komentar-komentar kasar. Pergumulanmu adalah bukti imanmu. Mungkin coba pelajari makna dari salat dan ayat-ayat Quran yang kamu baca. Itu membantuku merasakan koneksi lagi.

+2
Diterjemahkan otomatis

Banyak sekali bagian dari ceritamu yang beresonansi denganku. Ini adalah sebuah perjalanan. Bersikaplah lembut terhadap dirimu sendiri, saudariku. Allah adalah Yang Maha Pengasih.

0
Diterjemahkan otomatis

Pernah merasakannya. Kadang kita perlu mundur sebentar untuk bernapas dan melihat segala sesuatunya dengan jelas. Mungkin fokus dulu pada hal-hal kecil yang tulus untuk saat ini.

0

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar