saudari
Diterjemahkan otomatis

Apakah Beberapa Jiwa Terlahir dengan Tarikan Lebih Kuat ke Arah Kejahatan?

Assalamu alaikum wa rahmatullah. Aku udah lama muter-muterin ini di kepala-tentang sifat manusia dan soal baik-buruk dalam Islam. Aku tahu kita diajarin kalau Allah menciptakan kita di atas fitrah, dengan kemampuan memilih dan bertanggung jawab. Tapi yang bikin aku bingung: kalau kita semua mulai dengan potensi kebaikan yang sama, kenapa kayaknya ada orang yang nyaris gak perlu usaha, sementara yang lain... ya, gak begitu? Misalnya, kamu lihat orang-orang yang emang alaminya baik, sabar, pemaaf-hatinya condong ke situ. Terus ada yang lain, termasuk aku sendiri kadang-kadang, yang harus berjuang melawan amarah, egois, sombong, atau pengen ngelabrak waktu disakiti. Jadi aku bertanya-tanya: apa Islam sebenernya mengakui kalau ada orang yang mungkin diciptakan dengan temperamen yang lebih condong ke arah keburukan? Aku nanya gini sebagian karena pertarunganku sendiri. Aku pengen jadi baik, beneran. Tapi seringkali, ngelakuin hal yang bener itu rasanya kayak berenang ngelawan arus di dalem diriku. Ambil contoh memaafkan-Islam ngajak untuk kasih sayang, dan aku paham itu. Tapi pas aku lagi mendidih marah, gimana caranya memaafkan dan beneran tulus? Reaksi pertamaku biasanya ngelindungin diri, nahan sakit hati, atau pengen orang lain ngerasain juga. Jadi pas aku nyoba memaafkan karena Allah, aku kadang ragu itu beneran tulus apa nggak, soalnya ada bagian diriku yang gak mau. Nah ini teka-teki besarku: apa kita semua dibangun dengan tarikan yang sama ke arah kebaikan, atau ada di antara kita yang dapet pertarungan lebih berat dari awal? Apa mungkin seseorang beneran ngerasa mereka "diciptakan" buat jadi jahat-bukan sebagai alesan, tapi karena pikiran dan keinginan mereka emang alaminya nyeret ke apa yang mereka tahu salah? Allah tahu sifat setiap orang, kan? Dia menciptakan kita dengan kepribadian dan perjuangan yang beda-beda. Jadi kenapa kita nganggep semua orang harus ngerasa mudah dalam berbuat baik? Dan gimana Dia ngeliat orang yang harus berperang melawan nafsunya setiap hari, dibandingin sama yang lancar aja dalam kebaikan? Maksudku, mungkin perjuangannya sendiri itu bernilai, meskipun gak terasa alami. Aku bukannya mau ngindarin tanggung jawab atau ngebelain dosa-aku tahu kita bakal dimintai pertanggungjawaban. Aku cuma lagi ngali lebih dalam soal sifat manusia: apa beberapa orang dikasih pertarungan yang jauh lebih berat dengan diri mereka sendiri? Dan gimana Islam ngeliat seseorang yang harus merangkak menuju kebaikan, sementara buat yang lain ya cuma... ada gitu aja? Jazakum Allahu khayran atas masukannya.

Komentar

Bagikan pandangan Anda dengan komunitas.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ya Allah, diungkapkan dengan begitu jelas. Aku tuh orang yang mendidih karena marah lalu merasa bersalah. Tapi mungkin justru kenyataan bahwa kamu mempertanyakan dan berusaha memperbaiki diri itu menunjukkan kalau fitrahmu sedang berjuang. Jangan remehkan pahala dari perjuangan yang tulus.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Ameen. Menurutku jawabannya ada di tazkiyah. Membersihkan nafs itu proses, bukan tujuan akhir. Ada yang dikasih jalan lebih berat, tapi mereka yang tetap bertahan itu dicintai Allah. Tetap semangat berjuang ya, kak-itu tanda iman.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Betul, para sahabat itu nggak semuanya sama. Ada yang diuji lebih berat. Rasulullah (saw) bilang, orang yang susah payah belajar Al-Qur’an dapat pahala dua kali lipat. Mungkin mirip juga soal akhlak. Usahamu itu diperhatikan. Jangan menyerah, ya.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wah, kamu tuh kayak nerjemahin isi pikiranku persis banget. Aku tuh suka merasa hancur banget kalau bandingin diri sama orang-orang yang sabarnya alami gitu. Tapi postinganmu bikin aku sadar: mungkin perjuanganku ini ujianku, dan ujian mereka itu hal lain. Hikmah Allah tuh di luar jangkauan kita.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Jujur, lega banget baca ini. Aku kira cuma aku sendiri yang susah memaafkan saat disakiti. Aku berdoa minta hati yang lembut, tapi memang perjuangan banget. Mungkin kuncinya ya terus berdoa, walau doanya setengah-setengah? Allah tahu usaha kita.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sis, ini beneran nyentuh banget. Aku sering mikir, apa ya emang ada yang dari sananya udah beda. Tapi aku inget cerita tentang pelacur yang ngasih minum anjing dan akhirnya diampuni. Nggak peduli kita mulai dari mana, rahmat Allah bisa nyampe ke kita kalau kita berusaha.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Wallahi, aku sering banget nanya ini ke diri sendiri. Kadang, sekadar nahan kata-kata pedas aja rasanya udah kayak jihad. Aku menghibur diri dengan hadis yang bilang kalau orang yang tetap menyambung tali silaturahmi saat yang lain memutusnya bakal dapat pahala. Berat sih, tapi rahmat-Nya luas banget.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Sepenuhnya paham soal ini. Aku punya anggota keluarga yang kelihatannya begitu tenang, sementara di dalam diriku rasanya kayak badai. Tapi mungkin perjuangan kita memang disesuaikan untuk mengangkat derajat kita. Allah nggak membebani jiwa melampaui batas kemampuannya, kan? Itu yang bikin aku tenang.

saudari
Diterjemahkan otomatis

Subhanallah, ini benar-benar menyentuh hati. Aku sering merasa nafs-ku itu musuh terbesarku sendiri, menarik-narik aku ke arah marah dan dendam. Melelahkan banget, tapi kata-katamu mengingatkanku kalau perjuangannya sendiri itu ada nilainya. Semoga Allah memudahkan kita semua.

Tambahkan komentar baru

Masuk untuk meninggalkan komentar