Pengingat bagi yang Merindukan Dampak Ilmiah Islam
Assalamu alaikum, pernah nggak sih kepikiran gimana iman kita langsung memicu penemuan-penemuan ilmiah besar? Banyak yang nggak sadar kalau dorongan untuk mencari ilmu dalam peradaban Islam itu datang langsung dari pengabdian agama. Dr. George Saliba, profesor di Columbia University, bilang kalau masyarakat Islam punya minat besar pada astronomi karena kebutuhan agama kayak penentuan hilal, waktu salat, dan mencari arah kiblat. Hal-hal ini bukanlah perhatian orang Yunani sebelum kita. Dia jelasin kalau astronomi dan trigonometri nunjukin gimana praktik keagamaan dan pemikiran ilmiah berjalan beriringan. Bidang-bidang baru kayak ilm al-hay'a dan kemajuan di trigonometri didorong oleh motivasi keagamaan ini. Masjid-masjid dulu mendanai dan mempekerjakan ilmuwan profesional, menciptakan peran muwaqqit, atau penjaga waktu. Orang ini adalah astronom profesional yang tugas utamanya mengatur waktu salat dan menentukan arah kiblat untuk masjid. Jabatan unik ini, yang nggak ada tandingannya di peradaban lain, adalah bukti terbaik hubungan mendalam antara astronomi Islam dan kebutuhan keagamaan. Dr. Seyyed Hossein Nasr, sejarawan di George Washington University, bilang kalau Al-Qur'an menyeru orang beriman untuk meneliti alam semesta sebagai bentuk ibadah. Al-Qur'an nyebut fenomena alam sebagai ayat, tanda-tanda Tuhan, dan memerintahkan kita untuk merenungkannya. Bagi ilmuwan Muslim, mempelajari alam bukanlah hal sekuler; itu adalah kewajiban agama, perpanjangan dari merenungi Firman Ilahi. Dia menambahkan kalau tujuan ilmu-ilmu Islam adalah menemukan kesatuan di balik keragaman alam semesta, mencerminkan Tauhid. Dengan mengungkap hukum-hukum matematis alam semesta, para cendekiawan Muslim meyakini mereka sedang menyingkap kebijaksanaan Sang Pencipta, yang menguatkan iman lewat pengetahuan. Dr. David A. King, sejarawan sains abad pertengahan, mencatat bahwa menghitung arah kiblat dari mana pun di bumi memerlukan pemecahan masalah geometri bola yang rumit, mendorong batas kemampuan matematika dan geografi. Tantangan arah kiblat dan waktu salat memotivasi inovasi yang melampaui pencapaian sebelumnya. Instrumen kayak astrolabe khusus dan jam matahari dibuat khusus untuk tugas-tugas keagamaan ini. Intinya, astronomi Islam itu sangat responsif terhadap kebutuhan umat. Menetapkan kalender bulan buat Ramadan dan hari raya, plus koordinasi salat harian, berarti pengetahuan astronomi itu terjalin dalam administrasi keagamaan kayak nggak ada di tempat lain. Dalam buku "Teknologi di Dunia Islam," sejarawan Ahmad Y. al-Hassan jelasin kalau fikih Islam (Fiqh) bertindak sebagai katalis buat teknik. Kewajiban agama untuk bersuci, kayak berwudu lima kali sehari, mendorong kemajuan di teknik hidrolik dan mesin pengangkat air. Hadis "Kebersihan adalah setengah dari iman" memacu pembangunan saluran air, pemandian umum, dan jaringan air untuk menyediakan air bersih buat wudu. Jadi, ya, iman itu mesinnya. Mari kita lihat apa kata para ilmuwan sendiri. Al-Khawarizmi, bapak aljabar, nulis di bukunya kalau dia menyusunnya untuk melayani Tuhan dan memenuhi kebutuhan hukum praktis Islam. Dia didorong oleh Khalifah untuk membuat karya yang bermanfaat buat hal-hal kayak warisan, wasiat, dan perdagangan, mengharap rida dan pahala dari Tuhan. Al-Biruni, pelopor di banyak bidang, bilang kalau mencari kebenaran ilmiah adalah ibadah yang diperintahkan Al-Qur'an. Dia mengutip ayat: "Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi..." (Qur'an 3:191). Baginya, astronomi dan pengukuran bumi adalah sarana untuk menentukan kiblat, waktu salat, dan menyaksikan kesempurnaan Tuhan. Ibn al-Haytham, bapak optika dan metode ilmiah, ngeliat kerja empirisnya sebagai perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri pada Tuhan, Sang Kebenaran. Dia arahkan perhatiannya pada cahaya dan penglihatan, karena tahu Allah adalah cahaya langit dan bumi (Qur'an 24:35). Dia yakini kebenaran ilmiah mendekatkan kita pada kenyataan ilahi. Al-Kindi bilang kalau mengejar kebenaran itu sama dengan risalah para Nabi. Kita nggak perlu malu menerima kebenaran dari mana pun. Pengetahuan tentang hal-hal menuntun pada pemahaman tentang Ketuhanan dan Ke-Esa-an, yang dibawa oleh para Nabi sejati. Al-Ghazali menyatakan ilmu-ilmu kayak kedokteran, matematika, dan astronomi adalah kewajiban komunal (fardu kifayah). Tanpa itu, masyarakat nggak bisa menjaga keadilan dan kesehatan. Kalau nggak ada yang menguasainya, umat berdosa; kalau ada yang menguasai, gugurlah kewajiban. Mempelajarinya adalah tindakan taat kepada Tuhan. Jadi, ya, kemajuan ilmiah di masa keemasan Islam itu tepatnya karena Islam. Semoga pengetahuan ini nambahin cinta kita sama agama kita. Jazakallahu khairan.